Halaman

Minggu, 15 April 2012

SENI MEMBANGUN PENDIDIKAN YANG BEBAS KONFLIK

BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG Dalam menghadapi era globalisasi industri dan perdagangan bebas yangakan datang, berbagai negara di dunia, termasuk Indonesia berbenah dirimempersiapkan sumber daya manusianya. Ilmu pengetahuan, teknologi dan seni menjadi perhatian utama dalam upaya pengembangan dan penguasaannya di masa mendatang. Salah satu upaya yang dilakukan adalah dengan melakukan perubahan terhadap kurikulum pendidikan dasar dan menengah secara nasional sertamemberikan keleluasaan kepada daerah-daerah untuk menerapkannya sesuai dengan kondisi daerah setempat, yaitu dengan memanfaatkan kurikulum muatanlokal.Indonesia adalah salah satu negara agraris di dunia. Kondisi geografisnya yang terdiri dari dataran tinggi (pegunungan) dan dataran rendah (pesisir)menghasilkan pemandangan yang sangat menakjubkan yang apabila diolah secara profesional dapat menjadi objek wisata yang indah. Data-data tersebut di atas memberikan panduan kepada kita dalam pembentukan kurikulum muatan lokal berikut arah dan sasaran pendidikan yang akan dicapai. Secara nasional, penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi menjadi prioritasutama dalam kurikulum, sehingga mata pelajaran Matematika dan IPA mendapat perhatian dan porsi yang khusus dalam kurikulum dengan meminggirkan beberapamata pelajaran lain yang dianggap kurang bermanfaat bagi perkembangan zaman.Salah satu mata pelajaran yang terpinggirkan tersebut adalah pendidikan senikhususnya seni budaya daerah.Di dalam pertemuan-pertemuan ilmiah dan makalah-makalah para pakar,selalu disebutkan secara berangkai kata-kata ilmu pengetahuan, teknologi dan seni. Tetapi mengapa yang menjadi prioritas pembangunan pendidikan hanya pada ilmu pengetahuan dan teknologi saja ? Dari mana unsur seni akan diterimaoleh peserta didik ?Sebenarnya peran pendidikan seni bagi seorang peserta didik adalah sangat penting. Penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi selalu diiringi dengan jiwa yang memiliki nilai-nilai seni sehingga karya cipta yang dihasilkan memiliki nilai-nilai estetis. Bahkan beberapa ahli pernah mengemukakan bahwa tanpa seni, ilmu pengetahuan dan teknologi akan menjadi hampa.Tidak bisa diragukan lagi bahwasanya manusia tak akan terlepas denganmengeksplorasi segala sumber daya yang dimilikinya. Dengan cara mencurahkansegala daya dan kemampuanya untuk selalu berinofasi menemukan sesuatu yang baru yang dapat membantu hidupnya menjadi lebih baik. Jika manusia tidak menggali segala kemampuanya maka ia akan tertinggal bahkan tergerus oleh zaman yang selalu berkembang. Dalam dunia pendidikan Inovasi adalah hal yang mutlak dilakukan karena tanpainovasi akan terjadi kemandekan pada dunia pendidikan yang kemudian berimbas pada pada elemen-elemen kehidupan yang lain seperti politik, ekonomi, social dan lain-lain. B. Permasalahan permasalahan yang akan dibahas dalam makalah ini yaitu ³Bagaimanakah upaya yang dilakukan dalam seni membangun pendidikan yang bebas konflik? C. Tujuan Dengan disusunya Makalah ini semoga para mahasiswa lebih semangat lagi dalam mengapresiasikan seni di lingkungan sekolah. BAB II PEMBAHASAN SENI MEMBANGUN PENDIDIKAN YANG BEBAS KONFLIK Dengan diberlakukannya otonomi daerah, maka sudah sepantasnyalah pendidikan dasar dan menengah dapat mempersiapkan manusia Indonesia yang kompetitif untuk menghadapi era globalisasi dan era perdagangan bebas dunia seni Oleh karena itu, untuk dapat lebih terarah dan mempersempit masalah,disini penulis tertarik untuk membahas kurikulum muatan lokal yang meminggirkan dan menutup mata terhadap pendidikan seni.Oleh karena itu, sudah sepantasnyalah pendidikan seni mendapatkan porsi yang lebih dalam proses belajar-mengajar di sekolah. Selain ada mata pelajaran Seni Budaya yang sifatnya umum, penempatan pendidikan seni budaya daerah sebagaimata pelajaran muatan lokal adalah terobosan yang amat baik guna menunjang program pembangunan dan pendidikan daerah.Berdasarkan pantauan penulis, banyak peserta didik yang menambah dan menimba ilmu pengetahuan di bidang seni di luar sekolah, seperti : sanggar-sanggar tari, sanggar-sanggar musik, bina vokalia, rental band dan sebagainya.Hal ini sebenarnya sudah cukup bagi semua pihak untuk melihat sebuah fakta peserta didik telah menganggap bahwa pendidikan dan pengembangan nilai-nilai seni yang diperolehnya di sekolah sudah tidak memadai untuk pengembangankemampuan dirinya di bidang seni dan menanamkan dan menumbuhkan nilai-nilai seni yang ada di dalam dirinya.Oleh karena itu, dalam kesempatan ini penulis memberikan saran kepada sekolah-sekolah di seluruh Indonesia untuk dapat memberikan porsi yang lebih kepada mata pelajaran seni khususnya seni daerah masuk dalam bentuk mata pelajaran muatan lokal, karena sekolah memiliki wewenang untuk itu. Dandiharapkan pemerintah daerah dalam hal ini Dinas Pendidikan memberikan dukungan positif bukan memberikan respon tidak menentu sambil menunggu. tanggapan atasan seperti yang sering terjadi selama ini.Kendala kekurangan sumber daya manusia dalam hal ini guru (tenaga pengajar) sudah tidak dapat dijadikan alasan, karena saat ini sangat banyak lulusan Jurusan Pendidikan Sendratasik dan STSI yang tersebar hampir di seluruhIndonesia yang memiliki ilmu dan skill yang memadai untuk itu. Sekarang hanyatinggal kemauan dari pihak sekolah untuk menyelenggarakannya. A. Pengertian Fungsi Seni dan Inovasi di Bidang Pendidikan Berbicara mengenai inovasi (pembaharuan) mengingatkan kita pada istilah invention dan discovery. Invention adalah penemuan sesuatu yang benar-benar baru artinya hasil karya manuasia. Discovery adalah penemuan sesuatu (bendayang sebenarnya telah ada sebelumnya. Dengan demikian, inovasi dapat diartikan usaha menemukan benda yang baru dengan jalan melakukan kegiatan (usaha) invention dan discovery. Dalam kaitan ini Ibrahim (1989) mengatakan bahwa inovasi adalah penemuan yang dapat berupa sesuatu ide, barang, kejadian, metode yang diamati sebagai sesuatu hal yang baru bagi seseorang atau sekelompok orang (masyarakat). Maka dapat ditarik kesimpulan bahwa Inovasi pendidikan adalah penemuan yang dapat berupa sesuatu ide, barang, kejadian, metode yang diamati sebagai sesuatu hal yang baru bagi dunia pendidkan. Contoh bidangnya adalah Managerial, Teknologi, dan Kurikulum.Manusia sepanjang hidupnya tidak bisa dipisahkan dengan seni sebab seniadalah bagian dari kehidupan manusia yang sama pentingnya dengan kebutuhan primer lainnya. Suatu karya seni dapat berfungsi baik secara individual bagi penciptanya dan penikmatnya, maupun secara sosial dalam kehidupan sehari - hari. B. Fungsi sosial seni dalam bidang pendidikan Peranan seni dalam bidang pendidikan yaitu sebagai alat peraga untuk memperlancar proses belajar supaya anak didik lebih mudah dan mengerti menerimanya. Misalnya suatu peristiwa dalam sejarah disampaikan dengan film.Inovasi yang berbentuk metode dapat berdampak pada perbaikan, meningkatkan kualitas pendidikan serta sebagai alat atau cara baru dalam memecahkan masalah yang dihadapi dalam kegiatan pendidikan. Dengan demikian metode baru atau cara baru dalam melaksanakan metode yang ada seperti dalam proses pembelajaran dapat menjadi suatu upaya meningkatkan efektivitas pembelajaran.Sementara itu inovasi dalam teknologi juga perlu diperhatikan mengingat banyak hasil-hasil teknologi yang dapat dipergunakan untuk meningkatkan kualitas pendidikan, seperti penggunaannya untuk teknologi pembelajaran, prosedur supervise serta pengelolaan informasi pendidikan yang dapat meningkatkan efisiensi pelaksanaan pendidikan. Inovasi pendidikan dan model pembelajaran di Indonesiaa. a. Top Down InovationInovasi model Top Down ini sengaja diciptakan oleh atasan (pemerintah)sebagai usaha untuk meningkatkan mutu pendidikan atau pemerataan kesempatan untuk memperoleh pendidikan, ataupun sebagai usaha untuk meningkatkanefisiensi dan sebaginya. Inovasi seperti ini dilakukan dan diterapkan kepada bawahan dengan cara mengajak, menganjurkan dan bahkan memaksakan apayang menurut pencipta itu baik untuk kepentingan bawahannya. Dan bawahan tidak punya otoritas untuk menolak pelaksanaannya.Contoh adalah yang dilakukan oleh Departemen Pendidikan Nasional selama ini.Seperti penerapan kurikulum, kebijakan desentralisasi pendidikan dan lain-lain. b. bottom up Inovation Yaitu model ionovasi yang bersumber dan hasil ciptaan dari bawah dan dilaksanakan sebagai upaya untuk meningkatkan penyelenggaraan dan mutu pendidikan. Biasanya dilakukan oleh para guru C. MANFAAT SENI DI BIDANG PENDIDIKAN Indonesia merupakan negara yang kaya akan Seni dan Budayanya, tapidalam realitanya pemanfaatan seni masih minim sekali dimanfaatkan olehsekolah-sekolah pada umumnya, padahal banyak sekali manfaat yang seharusnyadapat dimanfaatkan dari Seni di dunia pendidikan.Manfaat seni dalam dunia pendidikan terutama di sekolah, ternyatasangatlah bermanfaat bagi perkembangan kepribadian siswa, hal ini mulaimenjadi sorotan dari berbagai pihak yang mulai peduli dengan dunia pendidikan.Pendidikan seni dipandang sangat perlu untuk membentuk kepribadian siswa darisisi potensi estetik atu keindahannya yang diyakini dapat memperhalus budimanusia. Dengan demikian seni tidak diragukan potensinya yang dapat digunakanuntuk menghaluskan pancaindera yang berarti juga menghaluskan budi manusia KTSP yang dikenal dengan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikanmerupakan kurikulum yang bersifat operasional dan dilaksanakan dimasing-masing tingkat satuan pendidikan. Landasan hukum kurikulum ini yaitu Undang-undang Sikdiknas No.20 Tahun 2003 dan Peraturan Pemerintah No. 15Tahun2005 tentang Standar Nasional Pendidikan.Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan disusun oleh masing-masing sekolah dengan mengacu pada Standar Kompetensi Lulusan (SKL) dan Standar Isi (SI) untuk jenjang pendidikan dasar dan menengah. Penyerahan pengembangan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan pada tiap sekolah denganmengacu pada Standar Isi dan Standar Kompetensi Lulusan bertujuan agar kurikulum tersebut dapat disesuaikan dengan karakter dan tingkat kemampuansekolah masing-masing.Pedoman penilaian dan penentuan kelulusan peserta didik mengacu padaSKL yang meliputi kompetensi untuk kelompok mata pelajaran atau kompetensiuntuk seluruh mata pelajaran yang dinilai berdasarkan kualifikasi kemampuanmencakup sikap, pengetahuan dan keterampilan.Standar isi merupakan ruang lingkup materi dan tingkat kompetensi yangdituangkan dalam persyaratan kompetensi tamatan, kompetensi bahan kajiankompetensi mata pelajaran, dan silabus pembelajaran yang harus dipenuhi pesertadidik pada jenjang dan jenis pendidikan tertentu. Standar isi merupakan pedomanuntuk pengembangan kurikulum tingkat satuan pendidikan. D. KEKURANGAN DAN KELEBIHAN SENI DI BIDANGPENDIDIKAN Jadi dapat diambil kesimpulan bahwa Pemanfaatan seni dalam dunia pendidikan terutama di sekolah yang sebenarnya sangat dibutuhkan sangatlah kurang, dalam hal ini sekolah haruslah berusaha untuk membangkitkan kreatifitas para siswanya, terutama dalam hal Seni Budaya. Dengan Seni Budaya, para siswadapat : a. mengekspresikan perasaannya melalui berbagai karyanya, baik sastra, lagu,musik, lukisan, tarian dan lain sebagainya. Dengan begitu akan lahir kepribadianyang unggul pada diri para siswa, b. disamping itu juga Seni Budaya dapat menjadi salah satu media hiburan untuk menyegarkan kembali pikiran para siswa setelah belajar keras, c. tentunya juga agar para siswa bisa lebih mencintai Seni dan Budaya Indonesia,yang dalam realitanya sudah jarang siswa yang peduli dengan Seni dan Budaya Indonesia. E. CIRI SENI DALAM BIDANG PENDIDIKAN Seni Sebagai Pendidikan KreativitasDe Francesco (1958) menyatakan bahwa pendidikan seni mempunyai kontribusi terhadap pengembangan individu antara membantu pengembangan mental,emosional, kreativitas, estetika, sosial, dan fisik. Aspek kreativiitas mempunyai peranan yang sangat penting dalam kehidupan manusia. Apalagi di masa pembangunan ini, orang yang berdaya kreatif sangat dibutuhkan guna mengembangkan ide-ide yang konstruktif yang akan membantu pemerintah dan masyarakat dalam memajukan kehidupan dan berkebudayaan.Seni atau karya seni dihubungkan dengan karakter kejiwaan manusia. Manusia dihadapkan dengan perasaan suka, senang, sedih, sakit, duka gembira,ceria, suka cita dan sebagainya, adalah contoh perilaku manusia yang sering tampak, ataupun bisa saja tidak tampak, kecuali manusia pelakunya saja yang merasakan. Perilaku kejiwaan tersebut diatas sering muncul dalam bentuk ekspresi yang nyata. Karya seni seperti contoh di atas adalah karya seni yang didahului oleh unsur kejiwaan/perasaan manusia. Apakah karya seni selalu dilatarbelakangi unsur kejiwaan? Jawabanya dapat kita renungkan sambil mengamati berbagai cotoh karya seni. Mungkin ada yang seperti contoh di atas, mungkin juga tidak.Seorang membuat karya seni hanya sekedar meniru bentuk alam, memotret alam dengan tidak melibatkan unsur perasaan. Perilaku lain ada kelompok penciptakarya seni yang mencoba memasukan kejiwaan sebagai latar belakang menciptakan karya senie. Quantum learningQuantum learning ialah kiat, petunjuk, strategi, dan seluruh proses belajar yang dapat mempertajam pemahaman dan daya ingat, serta membuat belajar sebagai suatu proses yang menyenangkan dan bermanfaat. Beberapa teknik yang dikemukakan merupakan teknik meningkatkan kemampuan diri yang sudah populer dan umum digunakan. Namun, Bobbi DePorter mengembangkan teknik-teknik yang sarana khirnya ditujukan untuk membantu para siswa menjadi responsif dan bergairah dalam menghadapi tantangan dan perubahan realitas (yang terkait dengan sifat jurnalisme). Quantum learning berakar dariupaya Georgi Lozanov, pendidik berkebangsaan Bulgaria. Ia melakukan eksperimen yang disebutnya suggestology (suggestopedia). Prinsipnya adalah bahwa sugesti dapat dan pasti mempengaruhi hasil situasi belajar, dansetiap detil apa pun memberikan sugesti positif ataunegatif. Untuk mendapatkan sugesti positif, beberapa teknik digunakan. Para murid di dalam kelas dibuatmenjadi nyaman. Musik dipasang, partisipasi mereka didorong lebih jauh. Poster- poster besar, yang menonjolkan informasi, ditempel. Guru-guru yang terampil dalam seni pengajaran sugestif bermunculan.Selanjutnya Porter dkk mendefinisikan quantum learning sebagai³interaksi-interaksi yang mengubah energi menjadi cahaya.´ Mereka mengasumsikan kekuatan energi sebagai bagian penting dari tiap interaksi manusia. Dengan mengutip rumus klasik , mereka alihkan ihwal energy itu ke dalam analogi tubuh manusia yang ³secara fisik adalah materi´. ³Sebagai pelajar, tujuan kita adalah meraih sebanyak mungkin cahaya: interaksi, hubungan,inspirasi agar menghasilkan energi cahaya´. Pada kaitan inilah, quantum learning menggabungkan sugestologi, teknik pemercepatan belajar BAB III PENUTUP A. Kesimpulan Dalam menghadapi era globalisasi industri dan perdagangan bebas yang akan datang, berbagai negara di dunia, termasuk Indonesia berbenah diri mempersiapkan sumber daya manusianya. Ilmu pengetahuan, teknologi dan seni menjadi perhatian utama dalam upaya pengembangan dan penguasaannya di masa mendatang. Salah satu upaya yang dilakukan adalah dengan melakukan perubahan terhadap kurikulum pendidikan dasar dan menengah secara Nasional sertamemberikan keleluasaan kepada daerah-daerah untuk menerapkannya sesuai dengan kondisi daerah setempat, yaitu dengan memanfaatkan kurikulum muatanlokal.Pariwisata, seni dan budaya yang dikatakan mampu memberikankontribusi kepada daerah dalam bentuk pendapatan asli daerah (PAD) haruslah ditunjang dengan ilmu pengetahuan dan keterampilan yang memadai dari putra- putra daerah ini. Oleh karena itu, sudah sepantasnyalah pendidikan senimendapatkan porsi yang lebih dalam proses belajar-mengajar di sekolah.Penempatan pendidikan seni budaya daerah sebagai mata pelajaran muatan local adalah terobosan yang amat baik guna menunjang program pembangunan dan pendidikan daerah DAF T AR PUSTAKA a. Inovation. Dalam situs http://WWW. Shafe.Tripod.com// Inov.htm. Dikunjungi 23 Desember 2000. b. Noor, Idris H.M. Sebuah tinjauan teoritis tentang inovasi pendidikan di Indonesia.Dalam situshttp://WWW.pdk.go.id/balitbang/publikasi/Jurnal/no_ 026 /sebuah_Tinjauan_teoritis_ Idris.htm.dikunjungi 23 Desember 200. c. Cece Wijaya, Djaja jajuri, A. Tabrani Rusyam. 1991. Upaya pembaharuan dalam bidang pendidikan dan pengajaran. Bandung: Remaja .Rosdakarya.Segena,Unggul. Desentralisasi dan Demokratisasi pendidikan di era otonomi daerah.Dalam situs.

PENGERTIAN KINERJA DAN PRODUKTIFITAS KINERJA

BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG MASALAH Secara umum Evaluasi kinerja menjelaskan mengenai suatu proses umpan balik atas kinerja yang lalu dan mendorong adanya produktivitas di masa mendatang. Dalam era globalisasi telah menuntut adanya perubahan yang sangat cepat dan menyebabkan adanya pergeseran pemikiran yang kompleks di segala bidang. Untuk itu perusahaan harus memiliki keunggulan kompetitif (competitive advantage) agar dapat memenangkan persaingan, minimal untuk mempertahankan operasi perusahaan. Salah satu keunggulan kompetitif yang penting bagi perusahaan adalah karyawan perusahaan. Karyawan perusahaan merupakan penggerak operasi perusahaan, sehingga jika kinerja karyawan perusahaan baik, maka kinerja perusahaan juga akan meningkat. Kinerja merupakan hasil pekerjaan yang mempunyai hubungan kuat dengan tujuan strategis organisasi, kepuasan konsumen dan memberikan kontribusi pada ekonomi (Armstrong dan Baron, 1998 :15). Dengan demikian, kinerja adalah tentang melakukan pekerjaan dan hasil yang dicapai dari pekerjaan tersebut. Kinerja adalah tentang apa yang dikerjakan dan bagaimana cara mengerjakannya. Penilaian kerja yang baik ditujukan untuk membantu karyawan agar mengerti dengan jelas perannya, mengenali peluang pengambilan resiko dan mengetahui kekuatan dan kelemahan dalam menjalankan tugasnya. Ketidakjelasan pengembangan karir yang dirasakan karyawan sering menjadi kendala dalam pencapaian prestasi kerja yang maksimum, sehingga diperlukan suatu pedoman yang dapat digunakan oleh masing-masing karyawan untuk membedakan mana aktivitas yang penting, kurang penting dan tidak penting. Infrastruktur SDM yang menguraikan pekerjaan, pengembangan karir, penilaian kerja dan sistem kompensasi dirancang agar dapat mendukung peningkatan produktivitas. Untuk menetapkan sasaran kerja individu, karyawan sebaiknya telah mengerti dengan jelas terlebih dahulu tentang bidang apa saja yang mampu dikerjakan dengan baik dan berhasil tercapai sasaran dan targetnya. Pengembangan alat bantu yang dapat mengenalkan pada karyawan tentang bidang kunci dalam jangkauan kemampuannya akan mendukung hal ini. Salah satu cara untuk mengenali potensi diri karyawan adalah dengan pengenalan Bidang Prestasi Kunci atau disingkat BPK. B. TUJUAN Dengan disusunya Makalah ini semoga para mahasiswa lebih semangat lagi dalam peningkatan kinerja dan produktifitas kinerja BAB II PEMBAHASAN A. PENGERTIAN KINERJA DAN PRODUKTIFITAS KINERJA Kinerja sebagai hasil-hasil fungsi pekerjaan/kegiatan seseorang atau kelompok dalam suatu organisasi yang dipengaruhi oleh berbagai faktor untuk mencapai tujuan organisasi dalam periode waktu tertentu (Tika, 2006). Menurut Rivai dan Basri (2005) pengertian kinerja adalah kesediaan seseorang atau kelompok orang untuk melakukan sesuatu kegiatan dan menyempurnakannya sesuai dengan tanggung jawab dengan hasil seperti yang diharapkan. Menurut Bambang Guritno dan Waridin (2005) kinerja merupakan perbandingan hasil kerja yang dicapai oleh karyawan dengan standar yang telah ditentukan. Sedangkan menurut Hakim (2006) mendefinisikan kinerja sebagai hasil kerja yang dicapai oleh individu yang disesuaikan dengan peran atau tugas individu tersebut dalam suatu perusahaan pada suatu periode waktu tertentu, yang dihubungkan dengan suatu ukuran nilai atau standar tertentu dari perusahaan dimana individu tersebut bekerja. Kinerja merupakan perbandingan hasil kerja yang dicapai oleh pegawai dengan standar yang telah ditentukan (Masrukhin dan Waridin, 2004). Dapat dikatakan bahwa produktivitas kinerja adalah perbandingan antara hasil dari suatu pekerjaan karyawan dengan pengorbanan yang telah dikeluarkan. Hal ini sesuai dengan pendapat Sondang P. Siagian bahwa produktivitas adalah: “Kemampuan memperoleh manfaat yang sebesar-besarnya dari sarana dan prasarana yang tersedia dengan menghasilkan output yang optimal bahkan kalau mungkin yang maksimal.” Banyak hasil penelitian yang memperlihatkan bahwa produktivitas kinerja sangat dipengaruhi oleh faktor: knowledge, skills, abilities, attitudes, dan behaviours dari para pekerja yang ada di dalam organisasi sehingga banyak program perbaikan produktivitas kinerja meletakkan hal-hal tersebut sebagai asumsi-asumsi dasarnya (Gomes, 1995, p.160). Pengertian lain dari produktivitas kinerja adalah suatu konsep universal yang menciptakan lebih banyak barang dan jasa bagi kehidupan manusia, dengan menggunakan sumber daya yang serba terbatas (Tarwaka, Bakri, dan Sudiajeng, 2004, p.137). B. TUJUAN MANAJEMEN KINERJA Untuk meningkatkan kemampuan dan mendorong karyawan agar bekerja dengan penuh semangat, efektif, efisien dan produktif serta sesuai dengan proses kerja yang benar sehingga diperoleh hasil kerja yang optimal Alasan dibutuhkannya manajemen kinerja : a. Setiap karyawan ingin memiliki penghasilan yang tinggi b. Setiap karyawan ingiin memiliki keahlian sesuai bidangnya c. Setiap karyawan ingin berkembang karirnya d. Kewajiban bagi pimpinan untuk meningkatkan penghasilan karyawan e. Kewajiban bagi pimpinan untuk meningkatkan kinerja karyawan f. Setiap karyawan ingin mendapatkan perlakuan adil atas hasil kerjanya g. Bagi yang berprestasi berhak memperoleh penghargaan dan bagi yang melanggar aturan wajib diberi sangsi a. Setiap institusi ingin bekerja secara efektif, efisien dan produktif b. Berakibat positif atau negatif tergantung dari kebijakan institusinya c. Positif bila institusi memiliki niat untuk mengembangkan SDM d. Negatif bila institusi tidak memiliki niat mengembangkan SDM Issue-issue alasan peningkatan kinerja karyawan : a. Mutu karyawan masih rendah, dilihat dari kemampuan yang dimiliki sebagai akibat dari rendahnya tingkat pendidikan, rendahnya kesempatan mengikuti pelatihan dan rendahnya etos kerja b. Mutu produk/pelayanan/ hasil kerja masih rendah C. PERTUMBUHAN KONSEP KINERJA Usaha untuk mengukur kinerja sistem telah banyak dilakukan pada saat ini yang dilandasi keingintahuan tentang: 1. Pandangan orang terhadap kinerja suatu system 2. Faktor apa saja yang mempengaruhi kinerja system 3. Bagaimana metode yang tepat dalam menentukan kinerja sistem yang menyatakan keberhasilan sistem dalam mencapai tujuan. Konsep produktivitas yang dikenalkan oleh Ricardo (Rao, 1986) menyatakan bahwa produktivitas sistem merupakan perbandingan antara keluaran dan masukan. Sedangkan si A (tahun) menyatakan bahwa produktivitas adalah ukuran kemampuan sistem dalam menghasilkan keluaran dengan masukan tertentu. Pada perkembangan terakhir ditunjukkan bahwa setiap masukan dan keluaran memilik peran dalam membentuk produktivitas sistem (siapa, tahun). Lebih dari sekedar indeks produktivitas, acuan inilah yang akhirnya melahirkan konsep efisiensi yang menyatakan bahwa efisiensi merupakan usaha untuk melihat kontribusi masukan terhadap keluaran (Siapa, tahun). Meski demikian ternyata konsep produktivitas dan efisiensi ini menjadi konsep yang tetap menjadi diskusi panjang karena relatif tidak memperhatikan aspek manusiawi (siapa, tahun). Manusia pada konsep ini hanya dilihat setara dengan faktor produksi lainnya. Munculnya aliran human relationship dalam manajemen menumbuhkan konsep efektivitas yang berusaha merangkum faktor teknis (efisiensi dan produktivitas), determinan sosial (perilaku manusia dan lingkungan) dan tujuan sistem (siapa, tahun). Konsep efektivitas terus berkembang karena kenyataannya manusia dan lingkungan sangat berperan dalam operasi sistem. D. PENGUKURAN KINERJA SISTEM DAN PENGUKURAN PRODUKTIFITAS KINERJA Kinerja suatu organisasi dapat dinyatakan sebagai tingkat keberhasilan organisasi dalam mencapai tujuan dan sasaran. Model kinerja yang pertama dikembangkan adalah model univariate yang dikenal dengan model Single Criteria. Pada model ini, salah satu kriteria diperlakukan sebagai variabel tergantung pada kriteria lainnya (siapa,tahun). Selanjutnya kriteria tunggal lain digunakan sebagai alat ukur seperti produktivitas, pendapatan penjualan, kepuasan karyawan dan sebagainya. Pada awalnya kriteria yang dipakai aladah keuntungan finasial yang diperoleh organisasi, sehingga disebut sebagai pendekatan keuntungan maksirnal. Kesulitan yang timbul pada model ini adalah peranan masing-masing kriteria yang tidak dapat menjelaskan secara menyeluruh serta kesulitan mengintegrasikan seluruh kriteria dalam satu kesatuan. Kesulitan model tersebut dapat diatasi dengan model multivariate, yang dipakai secara luas untuk mengukur kinerja sistem. Teknik pengukuran sangat tergantung pada pandangan siapa yang akan diikuti dalam menyatakan kinerja tersebut. Pada model ini sistem dijabarkan dalam sejumlah kriteria. Model ini dikenal dengan model dengan pendekatan Multi Criteria. Model pengukuran kinerja organisasi modern sekarang yang banyak digunakan adalah model yang memperhatikan faktor-faktor yang dianggap dapat menunjukkan kinerja organisasi yang terdiri banyak kriteria. Dengan model ini kinerja dapat ditampilkan secara lebih menyeluruh. Pendekatan multi kriteria ini terbagi dalam dua kelompok, yaitu: pendekatan partial dan pendekatan menyeluruh. Pengukuran produktivitas tenaga kerja menurut system pemasukan fisik perorangan/perorang atau per jam kerja orang diterima secara luas, namun dari sudut pandangan/ pengawasan harian, pengukuran-pengukuran tersebut pada umumnya tidak memuaskan, dikarenakan adanya variasi dalam jumlah yang diperlukan untuk memproduksi satu unit produk yang berbeda. Oleh karena itu, digunakan metode pengukuran waktu tenaga kerja (jam, hari atau tahun). Pengeluaran diubah ke dalam unit-unit pekerja yang biasanya diartikan sebagai jumlah kerja yang dapat dilakukan dalam satu jam oleh pekerja yang terpercaya yang bekerja menurut pelaksanaan standar. Karena hasil maupun masukan dapat dinyatakan dalam waktu, produktivitas tenaga kerja dapat dinyatakan sebagai suatu indeks yang sangat sederhana = Hasil dalam jam-jam yang standar : Masukan dalam jam-jam waktu. Untuk mengukur suatu produktivitas perusahaan dapatlah digunakan dua jenis ukuran jam kerja manusia, yakni jam-jam kerja yang harus dibayar dan jam-jam kerja yang dipergunakan untuk bekerja. Jam kerja yang harus dibayar meliputi semua jam-jam kerja yang harus dibayar, ditambah jam-jam yang tidak digunakan untuk bekerja namun harus dibayar, liburan, cuti, libur karena sakit, tugas luar dan sisa lainnya. Jadi bagi keperluan pengukuran umum produktivitas tenaga kerja kita memiliki unit-unit yang diperlukan, yakni: kuantitas hasil dan kuantitas penggunaan masukan tenaga kerja (Sinungan, 2003, p.24-25). BAB III PENUTUP A. KESIMPULAN kesediaan seseorang atau kelompok orang untuk melakukan sesuatu kegiatan dan menyempurnakannya sesuai dengan tanggung jawab dengan hasil seperti yang diharapkan. perbandingan antara hasil dari suatu pekerjaan karyawan dengan pengorbanan yang telah dikeluarkan. Hal ini sesuai dengan pendapat Sondang P. Siagian bahwa produktivitas adalah: “Kemampuan memperoleh manfaat yang sebesar-besarnya dari sarana dan prasarana yang tersedia dengan menghasilkan output yang optimal bahkan kalau mungkin yang maksimal.” keberhasilan organisasi dalam mencapai tujuan dan sasaran. Model kinerja yang pertama dikembangkan adalah model univariate yang dikenal dengan model Single Criteria. Pada model ini, salah satu kriteria diperlakukan sebagai variabel tergantung pada kriteria lainnya (siapa,tahun). Selanjutnya kriteria tunggal lain digunakan sebagai alat ukur seperti produktivitas, pendapatan penjualan, kepuasan karyawan dan sebagainya. Pada awalnya kriteria yang dipakai aladah keuntungan finasial yang diperoleh organisasi, sehingga disebut sebagai pendekatan keuntungan maksirnal. Kesulitan yang timbul pada model ini adalah peranan masing-masing kriteria yang tidak dapat menjelaskan secara menyeluruh serta kesulitan mengintegrasikan seluruh kriteria dalam satu kesatuan. produktivitas tenaga kerja menurut system pemasukan fisik perorangan/perorang atau per jam kerja orang diterima secara luas, namun dari sudut pandangan/ pengawasan harian, pengukuran-pengukuran tersebut pada umumnya tidak memuaskan, dikarenakan adanya variasi dalam jumlah yang diperlukan untuk memproduksi satu unit produk yang berbeda. Oleh karena itu, digunakan metode pengukuran waktu tenaga kerja (jam, hari atau tahun). Daftar Pustaka 1. Simamora, Henry, 1997. Manajemen Sumber Daya Manusia. Edisi Kedua.STIE : YKPN 2. Moh As’ad. 2003. Psikologi Industri. Yogyakarta: Libery. Sulistiyani, Ambar T. dan Rosidah.2003. Manajemen Sumber Daya Manusia. Graha Ilmu: Yogyakart 3. Tika, P. 2006. Budaya Organisasi Dan Peningkatan Kinerja Perusahaan. PT Bumi Aksara. Jakarta. 4. Rivai, Veithzal dan Basri. 2005. Performance Appraisal: Sistem Yang Tepat Untuk Menilai Kinerja Karyawan Dan Meningkatkan Daya Saing Perusahaan. Rajagrafindo Persada. Jakarta.

manajemen pendidikan

BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG MASALAH Manajemen sebagai suatu proses sosial, meletakkan bobotnya pada interaksi orang-orang, baik orang-orang yang berada di dalam maupun di luar lembaga-lembaga formal, atau yang berada di atas maupun di bawah posisi operasional seseorang. Selain itu juga manajemen pendidikan merupakan alternatif strategis untuk meningkatkan kualitas pendidikan. Peningkatan kualitas pendidikan bukanlah tugas yang ringan, karena tidak hanya berkaitan dengan permasalahan teknis, tetapi mencakup berbagai persoalan yang rumit dan kompleks, sehingga menuntut manajemen pendidikan yang lebih baik. Sayangnya, selama ini aspek manajemen pendidikan pada berbagai tingkat dan satuan pendidikan belum mendapat perhatian yang serius, sehingga seluruh komponen sistem pendidikan kurang berfungsi dengan baik. Lemahnya manajemen pendidikan juga memberikan dampak terhadap efisiensi internal pendidikan yang terlihat dari jumlah peserta didik yang mengulang dan putus sekolah. Pendidikan memiliki fungsi yang hakiki dalam mempersiapkan sumber daya manusia yang akan menjadi aktor-aktor dalam menjalankan fungsi dari berbagai bidang kehidupan. BAB II PEMBAHASAN A. Pengertian Manajemen pendidikan Manajemen berasal dari kata “manus” yang berarti “tangan”, berarti menangani sesuatu, mengatur, membuat sesuatu menjadi seperti yang diinginkan dengan mendayagunakan seluruh sumber daya yang ada. Secara teoritis, setiap ahli memberikan pandangan yang berbeda tentang batasan manajemen, karena itu tidak mudah memberi arti universal yang dapat diterima semua orang. Namun demikian dari pemikiran-pemikiran ahli tentang defenisi manajemen kebanyakan menyatakan bahwa manajemen merupakan suatu proses mendayagunakan orang dan sumber lainnya untuk mencapai tujuan organisasi secara efektif dan efisien. Berasal dari kata Yunani “educare” yang berarti membawa keluar yang tersimpan, untuk dituntut agar tumbuh dan berkembang. Dan dalam bahasa arab dikenal dengan istilah “tarbiyah”, berasal dari kata “raba-yarbu” yang berarti mengembang, tumbuh.“Seperti satu benih yang menumbuhkan tunas dan lembaganya, makin mengeras dan kokoh batangnya hingga mengagumkan bagi banyak petani”.Secara sederhana manajemen pendidikan adalah suatu lapangan dari studi dan praktik yang terkait dengan organisasi pendidikan. Sehingga diharapkan melalui kegiatan manajemen pendidikan tersebut, tujuan pendidikan dapat dilaksanakan secara efektif dan efisien. B. Komponen dan sub komponen Manajemen Pendidikan Secara umum manajemen pendidikan dijabarkan melalui beberapa komponen berupa perencanaan pendidikan, pengorganisasian pendidikan, kepemimpinan pendidikan, penggiatan atau pelaksanaan pendidikan, pengendalian atau pengawasan pendidikan. Redja Mudyahardjo dalam Filsafat Ilmu Pendidikan mengemukakan manajemen pendidikan mencakup sub-sub komponen: (1) perencanaan; (2) sistem pendidikan menurut tahap-tahap perkembangan (jenjang pendidikan) dan aspek-aspek pengembangan (jenis pendidikan); (3) organisasi; (4) administrasi; (5) keuangan; (6) pemasokan tenaga pendidikan; (7) sistem evaluasi; dan (8) penelitian. C. Prinsip-Prinsip Manajemen Pendidikan Douglas (1963:13-17) merumuskan prinsip-prinsip manajemen pendidikan sebagai berikut : a. Memprioritaskan tujuan diatas kepentingan pribadi dan kepentingan mekanisme kerja. b. Mengkoordinasikan wewenang dan tanggung jawab c. Memberikan tanggung jawab pada personil sekolah hendaknya sesuai dengan sifat-sifat dan kemampuannya d. Mengenal secara baik faktor-faktor psikologis manusia e. Relativitas nilai-nilai Prinsip-prinsip diatas memiliki esensi bahwa manajemen dalam ilmu dan praktiknya harus memperhatikan tujuan, orang-orang, tugas-tugas, dan nilai-nilai. Tujuan dirumuskan dengan tepat sesuai dengan arah organisasi, tuntutan zaman, dan nilai-nilai yang berlaku. Tujuan suatu organisasi dapat dijabarkan dalam bentuk visi, misi dan sasaran-sasaran. Ketiga bentuk tujuan itu harus dirumuskan dalam satu kekuatan tim yang memiliki komitmen terhadap kemajuan dan masa depan organisasi. Henry Fayol mengemukakan prinsip-prinsip manajemen beberapa bagian yaitu : a. Division of work Merupakan sifat alamiah, yang terlihat pada setiap masyarakat. Bila masyarakat berkembang maka bertambah pula organisasi-organisasi baru menggantikan organisasi-organisasi lama. Tujuan daripada pembagian kerja adalah menghasilkan pekerjaan yang lebih banyak dan lebih baik dengan usaha yang sama. b. Authority and Responsibility Authority (wewenang) adalah hak memberi instruksi-instruksi dan kekuasaan meminta kepatuhan. Responsibility atau tanggung jawab adalah tugas dan fungsi-fungsi yang harus dilakukan oleh seseorang pejabat dan agar dapat dilaksanakan, authority (wewenang) harus diberikan kepadanya. c. Discipline Hakekat daripada kepatuhan adalah disiplin yakni melakukan apa yang sudah disetujui bersama antara pemimpin dengan para pekerja, baik persetujuan tertulis, lisan ataupun berupa peraturan-peraturan atau kebiasaan-kebiasaan. d. Unity of command Untuk setiap tindakan, seorang pegawai harus menerima instruksi-instruksi dari seorang atasan saja. Bila hal ini dilanggar, wewenang (authority) berarti dikurangi, disiplin terancam, keteraturan terganggu dan stabilitas mengalami cobaan, seseorang tidak akan melaksanakan instruksi yang sifatnya dualistis. e. Unity of direction Prinsip ini dapat dijabarkan sebagai : “one head and one plan for a group of activities having the same objective”, yang merupakan persyaratan penting untuk kesatuan tindakan, koordinasi dan kekuatan dan memfokuskan usaha. D. Fungsi manajemen Fungsi manajemen adalah elemen-elemen dasar yang akan selalu ada dan melekat di dalam proses manajemen yang akan dijadikan acuan oleh manajer dalam melaksanakan kegiatan untuk mencapai tujuan. Fungsi manajemen pertama kali diperkenalkan oleh seorang industrialis Perancis bernama Henry Fayol pada awal abad ke-20. Ketika itu, ia menyebutkan lima fungsi manajemen, yaitu merancang, mengorganisir, memerintah, mengordinasi, dan mengendalikan. Namun saat ini, kelima fungsi tersebut telah diringkas menjadi empat, yaitu perencanaan, pengorganisasian, pengarahan, dan pengendalian. Perencanaan adalah memikirkan apa yang akan dikerjakan dengan sumber yang dimiliki. Perencanaan dilakukan untuk menentukan tujuan perusahaan secara keseluruhan dan cara terbaik untuk memenuhi tujuan itu. Manajer mengevaluasi berbagai rencana alternatif sebelum mengambil tindakan dan kemudian melihat apakah rencana yang dipilih cocok dan dapat digunakan untuk memenuhi tujuan perusahaan. Perencanaan merupakan proses terpenting dari semua fungsi manajemen karena tanpa perencanaan, fungsi-fungsi lainnya tak dapat berjalan. Fungsi kedua adalah pengorganisasian atau organizing. Pengorganisasian dilakukan dengan tujuan membagi suatu kegiatan besar menjadi kegiatan-kegiatan yang lebih kecil. Pengorganisasian mempermudah manajer dalam melakukan pengawasan dan menentukan orang yang dibutuhkan untuk melaksanakan tugas-tugas yang telah dibagi-bagi tersebut. Pengorganisasian dapat dilakukan dengan cara menentukan tugas apa yang harus dikerjakan, siapa yang harus mengerjakannya, bagaimana tugas-tugas tersebut dikelompokkan, siapa yang bertanggung jawab atas tugas tersebut, pada tingkatan mana keputusan harus diambil. Pengarahan atau directing adalah suatu tindakan untuk mengusahakan agar semua anggota kelompok berusaha untuk mencapai sasaran sesuai dengan perencanaan manajerial dan usaha-usaha. Jadi actuating artinya adalah menggerakkan orang-orang agar mau bekerja dengan sendirinya atau penuh kesadaran secara bersama-sama untuk mencapai tujuan yang dikehendaki secara efektif. Dalam hal ini yang dibutuhkan adalah kepemimpinan (leadership). Pengevaluasian atau evaluating dalah proses pengawasan dan pengendalian performa perusahaan untuk memastikan bahwa jalannya perusahaan sesuai dengan rencana yang telah ditetapkan. Seorang manajer dituntut untuk menemukan masalah yang ada dalam operasional perusahaan, kemudian memecahkannya sebelum masalah itu menjadi semakin besar. BAB III PENUTUP A. Kesimpulan Manajemen berasal dari kata “manus” yang berarti “tangan”, berarti menangani sesuatu, mengatur, membuat sesuatu menjadi seperti yang diinginkan dengan mendayagunakan seluruh sumber daya yang ada. Secara teoritis, setiap ahli memberikan pandangan yang berbeda tentang batasan manajemen, karena itu tidak mudah memberi arti universal yang dapat diterima semua orang. Namun demikian dari pemikiran-pemikiran ahli tentang defenisi manajemen kebanyakan menyatakan bahwa manajemen merupakan suatu proses mendayagunakan orang dan sumber lainnya untuk mencapai tujuan organisasi secara efektif dan efisien. Fungsi manajemen adalah elemen-elemen dasar yang akan selalu ada dan melekat di dalam proses manajemen yang akan dijadikan acuan oleh manajer dalam melaksanakan kegiatan untuk mencapai tujuan. Fungsi manajemen pertama kali diperkenalkan oleh seorang industrialis Perancis bernama Henry Fayol pada awal abad ke-20. Ketika itu, ia menyebutkan lima fungsi manajemen, yaitu merancang, mengorganisir, memerintah, mengordinasi, dan mengendalikan. Namun saat ini, kelima fungsi tersebut telah diringkas menjadi empat, yaitu perencanaan, pengorganisasian, pengarahan, dan pengendalian. DAFTAR PUSTAKA Bush, Tony. 2003. Theories of Educational Leadership and Management. London: Sage Publications. Engkoswara dan Komariah, Aan. 2010. Administrasi Pendidikan. Bandung: Alfabeta. Mudyahardjo, Redja. 2006. Filasafat Ilmu Pendidikan. Bandung: Remaja Rosdakarya. Pidarta, Made. 2004. Manajemen Pendidikan Indonesia. Jakarta: Rineka Cipta Prayitno. 2008. Arah dan langkah pengembangan Fakultas/ Jurusan Kependidikan. Makalah: disampaikan pada Seminar Internasional Pendidikan dan Temu Karya Dekan FIP/FKIP BKS-PTN Wilayah Barat Indonesia.

makna dan tujuan pendidikan islam

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pendidikan Islam sebagai salah satu aspek dari ajaran Islam, dasarnya adalah Alquran dan Hadis Nabi Muhammad saw. Dari kedua sumber tersebut, para intelektual muslim kemudian mengembangkannya dan mengklasifikannya kedalam dua bagian yaitu: Pertama, akidah untuk ajaran yang berkaitan dengan keimanan; kedua, adalah syariah untuk ajaran yang berkaitan dengan amal nyata (Muhammad Syaltut). Oleh karena pendidikan termasuk amal nyata, maka pendidikan tercakup dalam bidang syariah. Bila diklasifikasikan lebih lanjut, termasuk dalam sub bidang muamalah. Dalam Alquran (Q.S. 31: 12-15). Banyak ayat yang berkenaan dengan pendidikan. Tim penyusun buku Ilmu Pendidikan Islam memberikan contoh dengan menggunakan kisah Lukman ketika mendidik anak-anaknya (Proyek Pembinaan Perguruan Tinggi Agama, 1982/1983:20). Hal tersebut menggariskan prinsip-prinsip dasar materi pendidikan Islam yang terdiri atas masalah iman, ibadah, sosial, dan ilmu pengetahuan. Sebagai bantahan pendapat yang meragukan terhadap adanya aspek pendidikan dalam Alquran. Abdul Rahman Saleh Abdullah mengemukakan bahwa kata Tarbiyah yang berasal dari kata “Rabb”(mendidik dan memelihara) banyak terdapat dalam Alquran; demikian pula kata “Ilm” yang demikian banyak dalam Alquran menunjukkan bahwa dalam Alquran tidak mengabaikan konsep-konsep yang menunjukkan kepada pendidikan (Departemen P & K, 1990:291). Hadis, juga banyak memberikan dasar-dasar bagi pendidikan Islam. Hadis sebagai pernyataan, pengalaman, takrir dan hal ihwal Nabi Muhammad saw., merupakan sumber ajaran Islam yang kedua sesudah Alquran. BAB II PEMBAHASAN A. Makna Dan Tujuan Pendidikan Islam Pada Konferensi Dunia Pertama mengenai Pendidikan Islam yang diselenggarakan di Makkah, pada April 1971, ketika tampil sebagai salah seorang pembicara utama dan mengetuai komite yang membahas cita-cita dan tujuan pendidikan, secara sistematis al-Attas mengajukan agar definisi pendidikan Islam diganti menjadi penanaman adab dan istilah pendidikan dalam Islam menjadi ta’dib. Secara tegas, menurut al-Attas pendidikan adalah suatu proses penanaman sesuatu ke dalam diri manusia. Dalam hal ini, “suatu proses penanaman” mengacu pada metode dan sistem untuk menanamkan apa yang disebut sebagai ‘pendidikan’ secara bertahap. Sedangkan, “sesuatu” mengacu pada kandungan yang ditanamkan; dan “diri manusia” mengacu pada penerima proses dan kandungan itu. Jadi dapat disimpulkan bahwa pendidikan adalah penyemaian dan penanaman adab dalam diri seseorang, yang ini disebut dengan ta’dib. Dalam konteks ilmu, adab berarti disiplin intelektual yang mengenal dan mengakui adanya hierarki ilmu berdasarkan kriteria tingkat-tingkat keluhuran dan kemuliaan, yang memungkinkannya mengenal dan mengakui, bahwa seseorang yang pengetahuannya berdasarkan wahyu itu jauh lebih luhur dan mulia dari pada mereka yang pengetahuannya berdasarkan akal; bahwasanya fardu ‘ain adalah jauh lebih tinggi dari pada fardu kifayah; dan bahwasanya segala sesuatu yang berisi petunjuk kehidupan jauh lebih mulia dari pada segala sesuatu yang dipakai dalam kehidupan. Adab dalam ilmu pengetahuan akan menghasilkan cara-cara yang tepat dan benar dalam belajar dan penerapan pelbagai bidang sains yang berbeda. Seirama dengan ini, rasa hormat terhadap para sarjana dan guru dengan sendirinya merupakan salah satu pengejawantahan langsung dari adab terhadap ilmu pengetahuan. Dengan demikian tujuan yang sebenarnya dalam upaya pencarian ilmu dan pendidikan adalah agar seseorang bisa mencapai kebahagiaan di dunia dan di akherat. B. Konsep Pendidikan Islam Konsep pendidikan Islam yang diajarkan Nabi Saw dapat disimak dalam hadis trilogi agama; Islam, Iman dan Ihsan. Hadis yang diriwayatkan Bukhari dan Muslim dari Umar bin Khaththab ini menyebutkan, ketika Nabi Saw sedang mengadakan halaqah taklim di Masjid Nabawi, tiba-tiba datang seorang musafir berpakaian serba putih—yang belakangan diketahui malaikat Jibril AS—dengan sikap yang sangat sopan sebagai seorang murid bertanya kepada gurunya. Ada tiga hal yang ditanyakan Jibril; islam, iman dan ihsan. Nabi Saw menjawab, Islam adalah mengucapkan dua kalimat syahadat, mendirikan shalat, membayar zakat, berpuasa di bulan Ramadhan dan pergi haji ke tanah suci bagi yang mampu. Iman adalah percaya dan yakin kepada Allah, para malaikat, Kitab-kitab yang diturunkan, para rasul, hari kiamat dan takdir baik dan buruk dari Allah. Sedang ihsan adalah menyembah Allah seakan-akan engkau melihat-Nya, bila engkau tidak dapat melihat-Nya, yakinlah Dia tetap melihatmu. Berikutnya Nabi Saw ditanya tentang waktu hari kiamat. Beliau menjawab tidak tahu, tapi kemudian menjelaskan tanda-tandanya secara rinci. Dalam hadis ini dapat disimpulkan bahwa konsep dan materi pendidikan Islam harus mencakup tiga hal; Islam, Iman dan Ihsan. Islam sebagai gambaran perilaku peserta didik yang meliputi hubungan vertikal dan hubungan horizontal yang tergambar dalam rukun-rukun Islam. Iman menandakan kepatuhan dan keyakinan tentang inti nilai pendidikan Islam yang selalu bermuara pada hakekat hidup; mengabdi kepada Allah. Sedangkan Ihsan merupakan pengejawantahan nilai-nilai Islam dan Iman yang tertanam dalam bentuk perilaku nyata yang terwujud dalam etika dan akhlaq. Seorang muhsin adalah orang yang selalu mewujudkan kebaikan di mana pun, kapan pun dan kepada siapa pun, dengan penuh keikhlasan, tanpa mengharapkan balasan. C. Nilai-nilai pendidikan Islam Dalam buku At-Tarbiyah ad-Diniyah al-Islamiyyah baina al-Ashalah wa al-Mu`asharah, karya Fathi Ali Yunis dkk, disebutkan pendidikan Islam memiliki beberapa ciri khas: Karakter ketuhanan (thabi`iyah ilahiyyah); aspek-aspek pendidikan dalam Islam menyentuh sisi akidah, ibadah, muamalah yang kesemuanya bersumber dari Al-Qur’an dan sunnah. Komprehensif (at-Takamul), menyentuh berbagai aspek; rohani-jasmani, akidah-syari`ah, ilmu dan amal. Realistik (Waqi`iyyah), pendidikan Islam menyentuh realitas hidup manusia. Universal (`Alamiyyah) mencakup waktu, tempat, dan umat. Pendidikan Islam senantiasa relevan dengan zaman, tempat dan bangsa. Menyatukan antara yang permanen dengan yang dinamis (al-Jam`u baina ats-Tsabat wa-al-murunah). Akidah bersifat permanen, sedangkan mu’amalah dan hal-hal furu’iyah sangat dinamis. Agar pendidikan kemasyarakatan dapat mencapai target yang optimal, Ibnu Khaldun seorang sosilog muslim dalam al-Muqaddimah-nya, memberikan beberapa prinsip pendidikan masyarakat : 1. Prinsip kausalitas (as-Sababiyah). Hukum kausalitas adalah sistem yang diciptakan Allah dalam alam semesta. Dalam dunia pendidikan akan selalu dijumpai beragam watak, tabiat dan kemampuan manusia. Dalam hal ini Rasulullah Saw memberikan arahannya, “Kami para Nabi diperintahkan untuk berbicara kepada umat sesuai dengan kadar pemahamannya.” 2. Prinsip rasionalitas (al-`Aqlaniyyah). Rasionalitas adalah kemampuan akal dalam memahami dan menangkap ilmu pengetahuan. 3. Prinsip format dan isi (as-Surah wa al-Muhtawa). Format adalah gambaran nyata, sedangkan isi adalah informasi yang akan dicapai. Artinya menggunakan wasa’il al-idhah dalam menyampaikan pesan atau informasi. Al-Qur’an dan al-hadis banyak menggunakan matsal (perumpamaan) dengan term taysbih (penyerupaan), kinayah (kiasan) dalam menyampaikan makna yang dimaksud dalam pemahaman ajaran agama. 4. Prinsip fleksibilitas (al-Taghayyur). Dunia ini sangat dinamis, selalu mengalami perkembangan dan perubahan. Demikian pula dengan manusia sebagai pelaku utama di dunia ini pasti mengalami perubahan dari satu masa ke masa, dari satu generasi ke generasi. 5. Prinsip-prinsip pendidikan yang diambil dari realitas pendidikan yang berlaku Masyarakat Islam pada dasarnya adalah masyarakat pendidik, saling mengingatkan satu sama lain. Al-Qur’an telah menggambarkan kriteria masyarakat Islam dalam surat Ali `Imran: 110, “Kalian adalah umat terbaik yang pernah ada, karena saling mengajak kepada kebaikan, mencegah dari kemunkaran, dan beriman kepada Allah.” Masyarakat Madinah yang terdiri dari Muhajirin dan Anshar merupakan contoh nyata masyarakat Islam yang ideal. Sedangkan target pendidikan Islam yang akan dicapai menurut Abu Hamid al-Ghazali dalam Ihya’ Ulumiddin, adalah sebagai berikut : 1. Mendekatkan diri kepada Allah, dengan sikap tawadhu’. 2. Mendapatkan ilmu yang bermanfaat, yang dapat mengantarkan pemiliknya menjadi orang saleh, karena hakekat kebahagian di dunia dan akherat adalah ilmu pengetahuan. Berakhlak mulia. Karena akhlak mulia adalah tujuan diutusnya para nabi dan rasul. Hal ini ditegaskan Nabi Saw, “Sesungguhnya Aku diutus untuk menyempurnakan akhlak.” Dengan demikian pendidikan yang telah dicontohkan Nabi Saw, baik kandungan maupun metodenya dapat ditiru oleh umatnya, sehingga ‘baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur’ dapat tercapa BAB III PENUTUP A. KESIMPULAN Konsep pendidikan Islam yang diajarkan Nabi Saw dapat disimak dalam hadis trilogi agama; Islam, Iman dan Ihsan. Hadis yang diriwayatkan Bukhari dan Muslim dari Umar bin Khaththab ini menyebutkan, ketika Nabi Saw sedang mengadakan halaqah taklim di Masjid Nabawi, tiba-tiba datang seorang musafir berpakaian serba putih—yang belakangan diketahui malaikat Jibril AS—dengan sikap yang sangat sopan sebagai seorang murid bertanya kepada gurunya. Ada tiga hal yang ditanyakan Jibril; islam, iman dan ihsan. Nabi Saw menjawab, Islam adalah mengucapkan dua kalimat syahadat, mendirikan shalat, membayar zakat, berpuasa di bulan Ramadhan dan pergi haji ke tanah suci bagi yang mampu. Dalam hadis ini dapat disimpulkan bahwa konsep dan materi pendidikan Islam harus mencakup tiga hal; Islam, Iman dan Ihsan. Islam sebagai gambaran perilaku peserta didik yang meliputi hubungan vertikal dan hubungan horizontal yang tergambar dalam rukun-rukun Islam. Iman menandakan kepatuhan dan keyakinan tentang inti nilai pendidikan Islam yang selalu bermuara pada hakekat hidup; mengabdi kepada Allah. Sedangkan Ihsan merupakan pengejawantahan nilai-nilai Islam dan Iman yang tertanam dalam bentuk perilaku nyata yang terwujud dalam etika dan akhlaq. Seorang muhsin adalah orang yang selalu mewujudkan kebaikan di mana pun, kapan pun dan kepada siapa pun, dengan penuh keikhlasan, tanpa mengharapkan balasan. DAFTAR PUSTAKA Naquib al Attas, Muhammad, Dilema Kaum Muslimin cet.1.(Surabaya : PT. Bina Ilmu,1986) Konsep Pendidikan Dalam Islam : Suatu Rangka Fikir Pembinaan Filsafat Pendidikan Islam, Cet. IV. (Bandung : Mizan,1994) ¬¬¬¬¬¬¬ Wan Mohd Nor Wan Daud, Filsafat Dan Praktik Pendidikan Islam Muhammad Naquib al-Attas,cet.1(Bandung : Mizan, 2003)

prilaku belajar

BAB I PENDAHULUAN A. Latar belakang Persoalan penanaman nilai-nilai dalam proses pembelajaran di sekolah, sampai saat ini masih menjadi permasalahan yang terus hangat diperbincangkan. Beberapa pengamat pendidikan menuding bahwa pendidikan dipandang telah gagal menanamkan nilai-nilai universal seperti sifat amanah, kejujuran, kesabaran, dan rendah hati. Menurut Dwi Siswoyo (pakar pendidikan FIP Universitas Negeri Yogyakarta), hal ini terjadi karena proses pendidikan yang berlangsung selama ini masih cenderung terjebak dalam proses pembelajaran yang cenderung bersifat mekanistik, sehingga melupakan esensi pendidikan yang sarat dengan penanaman nilai-nilai universal dalam kehidupan. Ditinjau dari proses pembelajaran, ada dua asumsi yang menyebabkan gagalnya penanaman nilai-nilai universal dalam proses pembelajaran di sekolah. Pertama, munculnya anggapan bahwa persoalan penanaman nilai-nilai universal adalah persoalan klasik yang penanganannya sudah menjadi bagian dari tanggung jawab. Sekolah pada hakekatnya mempunyai peranan yang cukup penting dalam membentuk kepribadian dan tingkah laku moral anak yang menjunjung tinggi nilai-nilai universal dalam kehidupan. Sekolah juga mempunyai peranan yang cukup penting untuk memberikan pemahaman dan benteng pertahanan kepada anak agar terhindar dari jeratan negatif media informasi. Oleh karena itu sebagai antisipasi terhadap dampak negatif media informasi tersebut, sekolah selain memberikan bekal ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni (IPTEKS), serta ketrampilan berfikir kreatif, juga harus mampu membentuk manusia Indonesia yang berkepribadian, bermoral, beriman dan bertakwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa. BAB II PEMBAHASAN A. PERILAKU BELAJAR Setiap perilaku belajar selalu ditandai oleh ciri-ciri perubahan yang spesifik. Karakteristik perilaku belajar ini dalam beberapa pustaka rujukan, antara lain Psikologi Pendidikan Oleh Surya (1982), disebut juga sebagai prinsip-prinsip belajar. Diantara ciri-ciri perubahan khas yang menjadi karakteristik perilaku belajar yang terpenting adalah: 1. Perubahan itu Intensional perubahan yang terjadi dalam proses belajar ialah berkat pengalaman atau praktik yang dilakukan dengan sengaja dan disadari, atau dengan kata lain bukan kebetulan. Karakteristik ini mengandung konotasi bahwa siswa menyadari akan adanya perubahan yang dialami atau sekurang-kurangnya ia merasakan adanya perubahan dalam dirinya, seperti bertambahnya pengetahuan, kebiasaan, sikap dan pandangan terhadap sesuatu, keterampilan dan lainnya. Maka dari itu, perubahan yang diakibatkan mabuk, gila, dan lelah tidak termasuk dalam karakteristik belajar, karena individu yang bersangkutan tidak menyadari keberadaannya. 2) Perubahan itu Positif dan Aktif Perubahan yang terjadi karena proses belajar bersifat positif dan aktif. Positif artinya baik, berguna, serta sesuai dengan harapan. Hal ini juga bermakna bahwa perubahan tersebut senantiasa merupakan penambahan, yakni diperolehnya sesuatu yang baru yang lebih baik daripada apa yang telah ada sebelumnya. Adapun perubahan aktif artinya tidak terjadi dengan sendirinya, seperti karena proses kematangan, akan tetapi karena proses itu sendiri. 3) Perubahan itu Efektif dan Fungsional Perubahan yang timbul karena proses belajar bersifat efektif, yakni berguna. Yakni, perubahan tersebut membawa pengaruh, makna, manfaat tertentu bagi peserta didik. Selain itu, perubahan dalam proses belajar bersifat fungsional dalam arti bahwa ia relatif menetap dan setiap saat apabila dibutuhkan, perubahan tersebut dapat direproduksi dan dimanfaatkan. Perubahan fungsional dapat diharapkan memberi manfaat yang luas (misalnya ketika siswa menempuh ujian dan menyesuaikan diri dengan lingkungannya dalam mempertahankan kelangsungan hidupnya). B. Makna nilai dalam perspektif kehidupan Secara harfiah kata nilai mengandung makna sebagai sesuatu yang yang diyakini kebenarannya dan dianut serta dijadikan sebagai acuan dasar individu dan masyarakat dalam menentukan sesuatu yang dipandang baik, benar, bernilai maupun berharga. Istilah nilai menurut C. Kluckhohn (John W. Berry, dkk., 1992: 102) disebutkan bahwa “Nilai menunjuk pada suatu konsep yang dikukuhi individu atau suatu anggota kelompok secara kolektif mengenai sesuatu yang diharapkan (desirable) dan berpengaruh terhadap pemilihan cara maupun tujuan tindakan dari beberapa alternative Nilai dalam kajian sosiologi dan antropologi merupakan konstruk yang disimpulkan sebagai sesuatu yang dianut masyarakat secara kolektif dan pribadi-pribadi secara perorangan (John W. Berry, dkk., 1992: 102). Dalam sosiologi istilah nilai sering disebut dengan istilah nilai sosial. Menurut Lukman Hakim & E.J. Ningsih (1997: 28), nilai sosial adalah pandangan dan sikap yang diterima oleh masyarakat yang dijadikan dasar dalam menentukan apa yang baik dan bernilai atau berharga. Woods (Lukman Hakim & E.J. Ningsih, 1997: 29) menyatakan bahwa: “Nilai sosial adalah petunjuk-petunjuk umum yang telah berlangsung lama dan mengarahkan kepada tingkah laku dan kepuasan dalam kehidupan sehari-hari”. Sedang menurut Saifuddin Azwar (1998: 57), nilai merupakan bagian dari kepribadian individu yang dapat mewarnai kepribadian kelompok atau kepribadian bangsa. Nilai bukan saja dijadikan rujukan untuk bersikap dan berbuat dalam masyarakat, akan tetapi dijadikan pula sebagai ukuran benar tidaknya suatu fenomena perbuatan dalam masyarakat itu sendiri. Apabila ada suatu fenomena sosial yang bertentangan dengan sistem nilai yang dianut oleh masyarakat, maka perbuatan tersebut dinyatakan bertentangan dengan sistem nilai yang dianut oleh masyarakat, dan akan mendapatkan penolakan dari masyarakat tersebut. Berdasarkan beberapa pendapat di atas, dapat disimpulkan bahwa nilai merupakan sesuatu yang diyakini kebenarannya dan dianut serta dijadikan sebagai acuan dasar individu dan masyarakat dalam menentukan sesuatu yang dipandang baik, benar, bernilai maupun berharga. Nilai merupakan bagian dari kepribadian individu yang berpengaruh terhadap pemilihan cara maupun tujuan tindakan dari beberapa alternatif serta mengarahkan kepada tingkah laku dan kepuasan dalam kehidupan sehari-hari. Dengan demikian nilai merupakan daya pendorong dalam hidup, yang memberi makna dan pengabsahan pada tindakan seseorang. Oleh karena itu, nilai dalam setiap individu dapat mewarnai kepribadian kelompok atau kepribadian bangsa. C. teknik dan pendekatan penanaman nilai dalam proses pembelajaran Teknik pembelajaran yang berorientasi pada nilai (afek) menurut Noeng Muhadjir (Muhaimin, 2002) dapat dibedakan menjadi beberapa macam, diantaranya yaitu: teknik indoktrinasi, teknik moral reasoning (pemikiran moral), teknik meramalkan konsekuensi, teknik klarifikasi, dan teknik internalisasi. a. Teknik indoktrinasi. Ada beberapa tahap untuk melakukan prosedur teknik indoktrinasi, yaitu 1. brainwashing, yakni guru memulai penanaman nilai dengan jalan merusak atau mengacaukan terlebih dahulu tata nilai yang sudah mapan dalam diri siswa, sehingga mereka tidak mempunyai pendirian lagi. Metode yang dapat digunakan guru untuk mengacakau pikiran siswa, antara lain dengan tanya jawab, wawancara mendalam dengan teknik dialektik. 2. mendirikan fanatisme, yakni guru berkewajiban menanamkan ide-ide baru yang dianggab benar, sehingga nilai-nilai yang ditanamkan dapat masuk kepala anak tanpa melalui pertimbangan rasional yang mapan. Dalam menanamkan fanatisme ini lebih banyak digunakan pendekatan emosional daripada pendekatan rasional. Apabila siswa telah mau menerima nilai-nilai itu secara emosional, barulah ditanamkan doktrin sesungguhnya 3. penanaman doktrin. Pada tahap ini guru dapat memakai pendekatan emosional; keteladanan. Pada waktu penanaman doktrin ini hanya dikenal satu nilai kebenaran yang disajikan, dan tidak ada alternatif lain. Semua siswa harus menerima kebenaran itu tanpa harus mempertanyakan hakekat kebenaran itu. b. Teknik moral reasoning. Teknik ini dilakukan melalui beberapa tahap, yaitu dengan jalan: 1. penyajian dilema moral. Pada tahap ini siswa dihadapkan dengan problematik nilai yang bersifat kontradiktif, dari yang sifatnya sederhana hingga yang kompleks. Metode penyajiannya dapat melalui observasi, membaca koran/majalah, mendengarkan sandiwara, melihat film dan sebagainya; 2. setelah disajikan problematik dilemma moral, dilanjutkan dengan pembagian kelompok diskusi. Siswa dibagi ke dalam beberapa kelompok kecil untuk mendiskusikan beberapa hasil pengamatan terhadap dilemma moral tersebut; 3. membawa hasil diskusi kelompok ke dalam diskusi kelas, dengan tujuan untuk klarifikasi nilai, membuat alternatif dan konsekuensinya; 4. setelah siswa berdiskusi secara intensif dan melakukan seleksi nilai yang terpilih sesuai dengan alternatif yang ajukan, selanjunya siswa dapat mengorganisasikan nilai-nilai yang terpilih tersebut ke dalam dirinya. Untuk mengetahui apakah nilai-nilai tersebut telah diorganisasikan siswa ke dalam dirinya dapat diketahui lewat pendapat siswa, misalnya melalui karangan-karangannya yang disusun setelah diskusi, atau tindakan follow up dari kegiatan diskusi tersebut. c. Teknik meramalkan konsekuensi. Teknik ini sesungguhnya merupakan penerapan dari pendekatan rasional dalam mengajarkan nilai. Teknik ini mengandalkan kemampuan berpikir ke depan bagi siswa untuk membuat proyeksi Nilai yang sudah mempribadi inilah yang dalam Islam disebut dengan kepercayaan/keimanan yang istikomah, yakni keimanan yang sulit digoyahkan oleh kondisi apapun. Sedang ditinjau dari pendekatan penanaman nilai, ada beberapa pendekatan penanaman nilai yang dapat digunakan guru dalam proses pembelajaran, antara lain yaitu pendekatan: pengalaman, pembiasaan, emosional, rasional, fungsional, dan keteladanan (Ramayulis, 2004). Pertama, pendekatan pengalaman. Pendekatan pengalaman merupakan proses penanaman nilai-nilai kepada siswa melalui pemberian pengalaman langsung. Dengan pendekatan ini siswa diberi kesempatan untuk mendapatkan pengalaman spiritual baik secara individual maupun kelompok. Kedua, pendekatan pembiasaan. Pendekatan pembiasaan adalah suatu tingkah laku tertentu yang sifatnya otomatis tanpa direncanakan terlebih dahulu dan berlaku begitu saja tanpa dipikirkan lagi. Dengan pembiasaan pembelajaran memberikan kesempatan kepada peserta didik terbiasa mengamalkan konsep ajaran nilai-nilai universal, baik secara individual maupun secara berkelompok dalam kehidupan sehari-hari. Ketiga, pendekatan emosional. Pendekatan emosional adalah upaya untuk menggugah perasaan dan emosi siswa dalam meyakini konsep ajaran nilai-nilai universal serta dapat merasakan mana yang baik dan mana yang buruk. Keempat, pendekatan rasional. Pendekatan rasional merupakan suatu pendekatan mempergunakan rasio (akal) dalam memahami dan menerima kebenaran nilai-nilai universal yang di ajarkan Kelima, pendekatan fungsional. Pengertian fungsional adalah usaha menanamkan nilai-nilai yang menekankan kepada segi kemanfaatan bagi siswa dalam kehidupan sehari-hari, sesuai dengan tingkatan perkembangannya. BAB III PENUTUP 1. Pendidikan dipandang telah gagal menanamkan nilai-nilai universal seperti sifat amanah, kejujuran, kesabaran, dan rendah hati. Hal ini terjadi karena proses pendidikan yang berlangsung selama ini masih cenderung terjebak dalam proses pembelajaran yang cenderung bersifat mekanistik, sehingga melupakan esensi pendidikan yang sarat dengan penanaman nilai-nilai universal dalam kehidupan. 2. Sekolah pada hakekatnya mempunyai peranan yang cukup penting dalam membentuk kepribadian dan tingkah laku moral anak yang menjunjung tinggi nilai-nilai universal dalam kehidupan. Sekolah juga mempunyai peranan yang cukup penting untuk memberikan pemahaman dan benteng pertahanan kepada anak agar terhindar dari jeratan negatif media informasi. 3. Beberapa teknik pembelajaran yang dapat digunakan guru untuk menanamkan nilai-nilai di sekolah, diantaranya yaitu: teknik indoktrinasi, teknik moral reasoning (pemikiran moral), teknik meramalkan konsekuensi, teknik klarifikasi, dan teknik internalisasi. 4. Beberapa pendekatan yang dapat digunakan guru untuk menanamkan nilai-nilai dalam proses pembelajaran di sekolah, antara lain yaitu: pendekatan pengalaman, pembiasaan, emosional, rasional, fungsional, dan pendekatan keteladanan. DAFTAR PUSTAKA Jalaluddin. (1995). Psikologi agama. Jakarta: PT RajaGrafindo Persada. John W. Berry, dkk. (1999) Psikologi lintas-budaya: riset dan aplikasi. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama. Light, D., Keller, S., & Calhoun, C. (1989). Sociology. New York: Alfred A. Knopf.

sarana dan prasarana pendidikan

BAB II PEMBAHASAN A. Pengertian Sarana dan Prasarana Pendidikan Prasarana pendidikan adalah semua perangkat kelengkapan dasar yang secara tidak langsung menunjang proses pendidikan di sekolah. Dalam pendidikan misalnnya lokasi atau tempat, bangunan sekolah, lapangan olahraga, ruang dan sebagainya. Sedangkan sarana pendidikan adalah semua perangkat peralatan, bahan dan perabot yang secara langsung digunakan dalam proses pendidikan di sekolah, seperti: ruang, buku, perpustakaan, labolatorium dan sebagainya. Sedangkan menurut keputusan menteri P dan K No.079/1975, sarana pendidikan terdiri dari 3 kelompok besar yaitu: 1. Bangunan dan perabot sekolah. 2. Alat pelajaran yang terdiri dari pembukauan dan alat-alat peraga dan labolatarium. 3. Media pendidikan yang dapat dikelompokan menjadi audiovisual yang menguanakan alat penampil dan media yang tidak menggunakan alat penampil. Adapun yang bertanggungjawab tentang sarana dan prasarana pendidikan adalah para pengelola administrasi pendidikan. Secara mikro atau sempit maka kepala sekolah bertanggung jawab masalah ini, seperti : 1. Hubungan antara peralatan dan pengajaran dengan program pengajaran. 2. Tanggung jawab kepala sekolah dan kaitannya dengan pengurusan dan prosedur 3. Beberapa pedoman administrasi peralatan 4. Administrasi gedung dan perlengkapan sekolah B. Tujuan Manajemen Sarana dan Prasarana Pendidikan Secara umum, tujuan manajemen sarana prasarana pendidikan adalah memberi layanan secara profesional di bidang sarana prasarana pendidikan dalam rangka terselenggaranya proses pendidikan secara efektif dan efisien. Secara rinci tujuannya adalah sebagai berikut : 1. Untuk mengupayakan pengadaan sarana dan prasarana pendidikan melalui sistem perencanaan dan pengadaan yang hati-hati dan seksama. Dengan perkataan ini, melalui manajemen perlengkapan pendidikan di harapkan semua perlengkapan yang di dapatkan oleh sekolah adalah serana dan serana pendidikan yang berkualitas tnggi, sesuai dengan kebutuhan sekolah, dan dengan dana yang efisien. 2. Untuk mengupayakan pemakaian sarana prasarana sekolah secara tepat dan efisien. 3. Untuk menupayakan pemeliharaan sarana dan prasarana sekolah, sehingga keberadaannya selalu dan kondisi siap pakai setiap di perlukan oleh semua personel sekolah. C. Proses-Proses Manajemen Sarana dan Prasarana Pendidikan Sebelum telah ditegaskan bahwa manajemen sarana dan prasarana sekolah merupakan proses kerjasama pendayagunaan semua perlengkapan sekolah secara efektif dan efisien. Satu hal yang perlu di pertegas dalam definisi tersebut adalah bahwa manajemen sarana prasarana sekolah merupakan suatu proses pendayagunaan yang sasarannya adalah perlengkapan pendidikan, seperti perlengkapan sekolah, perlengkapan perpustakaan, media pengajaran, dan perlengkapan lainnya, manajeman perlengkapan sekolah itu terwujud sebagai suatu proses yang terdiri atas langkah-langkah tertentu secara sistematis. Secara sederhana manajemen sarana dan prasarana pendidikan di sekolah mencakup kegiatan-kegiatan pengadaan, pendistribusian, penggunaan dan pemeliharaan, inventarisasi, dan penghapusan sarana dan prasarana pendidika. Dalam makalah ini tentu tidak mungkin membahasnya secara keseluruhan dan rinci. Berikut ini hanya dibahas tiga hal sangat penting, yaitu: 1. pengadaan sarana dan prasarana; 2. pemeliharaan sarana dan prasarana; 3. penghapusan sarana dan prasarana sekolah. Akhir- akhir ini banyak sekali uraian tentang langkah-langkah manajemen sarana prasarana sekolah sebagaimana di kemukakan oleh para teoritisi penggelolaan perlengkapan pendidikan. Stoops dan Johnson (1967) pernah menggungkapkan bahwa langkah-langkah manajemen sarana prasarana pendidikan itu meliputi analisis kebutuhan, analisis anggaran, seleksi, penetapan kebutuhan, pembelian, penerimaan, penyimpanan, pendistribusian, pemakaian, inventarisasi dan pemeliharaan. Sementara pakar manajemen pendidikan lainnya menyimpulkan bahwa manajemen sarana prasarana pendidikan disekolah itu meliputi analisis dan penyusunan kebutuhan, pengadaan, penyaluran, pemakaian dan pemeliharaan, inventarisasi dan penghapusan. D. Pengadaan Sarana dan Prasarana Pendidikan Pengadaan sarana dan prasarana sekolah biasanya dilakukan untuk memenuhi kebutuhan sesuai dengan perkembangan pendidikan program sekolah, menggantikan barang-barang yang rusak, hilang, di hapuskan, atau sebab-sebab lain yang dapat di pertanggung jawabkan. Dengan pengadaan tersebut diharapkan dapat menjaga tingkat persediaan barang setiap tahun anggaran mendatang. Berkenaan dengan pengadaan sarana dan prasarana pendidikan di sekolah ada tiga hal yang perlu dipahami. Pertama, bahwa pengadaan sarana dan prasarana pendidikan di sekolah harus melalui perencanaan yang hati-hati. Kedua, bahwa banyak cara dalam pengadaan sarana dan prasarana pendidikan di sekolah. Ketiga, bahwa pengadaan sarana dan prasarana pendidikan di sekolah harus diadministrasikan dengan tertib, sehingga semua pegeluaran uang yang berkenaan dengan pengadaan sarana dan prasarana pendidikan di sekolah itu dapat dipertanggungjawabkan baik kepada Pemerintah, Yayasan Pembina, maupun masyarakat. a. Perencanaan Pengadaan Sarana dan Prasarana Sekolah Pengadaan sarana dan prasarana sekolah seharusnya di rencanakan dengan hati-hati sehingga semua pengadaannya selalu sesuai dengan, atau memenuhi kebutuhan pengadaan sarana dan prasarana sekolah. Perencanaan pengadaan sarana dan prasarana pendidikan dapat didefinisikan sebagai suatu proses memikirkan dan menetapkan program pengadaan fasilitas sekolah, b. Cara Pengadaan Sarana dan Prasarana Pendidikan Pengadaan perlengkapan pendidikan pada dasarnya merupakan upaya merealisasikan rencana pengadaan perlengkapan yang telah di susun sebelumnya. Sering kali sekolah mendapat bantuan sarana dan prasarana pendidikan dari Pemerintah, dalam hal ini Departemen Pendidikan Nasional, Dinas Pendidikan Nasional Provinsi, dan Dinas Pendidikan Nasional Kota/Kabupaten. c. Administrasi Sarana dan Prasarana Pendidikan Secara definitif, inventarisasi dapat diartikan sebagai pencatatan dan penyusunan daftar barang milik negara secara sistematis, tertib, dan teratur berdasarkan ketentuan-ketentuan atau pedoman-pedoman yang berlaku. E. Pemeliharaan Sarana dan Prasarana Pendidikan Ada beberapa macam pemeliharaan sarana dan prasarana pendidikan di sekolah ditinjau dari sifat maupun waktunya. • Ditinjau dari sifatnya ada empat macam pemeliharaan sarana prasarana pendidikan di sekolah. Keempat macam pemeliharaan tersebut: 1. Pemeliharaan perlengkapan bersifat pengecekan 2. Pemeliharaan yang bersifat pencegahan 3. Pemeliharaan yang bersifat perbaikan ringan 4. Perbaikan berat • Ditinjau dari waktu pemeliharaannya ada dua macam pemeliharaan sarana dan prasarana pendidikan di sekolah: 1. Pemeliharaan sehari-hari, Sepeti menyapu, mengepel lantai, membersihkan pintu. 2. Pemeliharaan berkala, misalnya pengontrolan genting, pengapuran tembok F. Penghapusan Sarana dan Prasarana Pendidikan Secara defenitif, penghapusan sarana dan prasarana pendidikan adalah kegiatan meniadakan barang-barang milik lambaga (bisa juga milik negara) dari daftar inventaris dengan cara berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Sebagai salah satu aktivitas dalam pengelolaan sarana prasarana pendidikan, penghapusan bertujuan untuk: 1. Mencegah dan atau membatasi kerugian yang lebih besar sebagai akibat pengeluaran dana untuk perbaikan perlengkapan yang rusak. 2. Mencegah terjadinya pemborosan biaya pengamanan perlengkapan yang tidak berguna lagi. 3. Membebaskan lembaga dari tanggungjawab pemeliharaan dan pengamanan. 4. Meringankan beban inventarisasi. G. Pengertian Manajemen Keuangan Pendidikan Manajemen keuangan adalah sumber daya yang diterima yang akan dipergunakan untuk penyelenggaraan pendidikan. Manajemen keuangan dimaksudkan sebagai suatu manajemen terhadap fungsi-fungsi keuangan. Menurut Jones (1985), manajemen keuangan meliputi: 1. Perencanaan financial, yaitu kegiatan mengkoordinir semua sumber daya yang tersedia untuk mencapai sasaran yang diinginkan secara sistematik tanpa efek samping yang merugikan. 2. Pelaksanaan (implenmentation involves accounting), yaitu kegiatan berdasarkan rencana yang telah dibuat. 3. Evaluasi, yaitu proses penilaian terhadap pencapaian tujuan. H. Tujuan Manajemen Keuangan Pendidikan Melalui kegiatan manajemen keuangan maka kebutuhan pendanaan kegiatan sekolah dapat direncanakan, diupayakan pengadaannya, dibukukan secara transparan, dan digunakan untuk membiayai pelaksanaan program sekolah secara efektif dan efisien. Untuk itu tujuan manajemen keuangan adalah: 1. Meningkatkan efektivitas dan efisiensi penggunaan keuangan sekolah. 2. Meningkatkan akuntabilitas dan transparansi keuangan sekolah. 3. Meminimalkan penyalahgunaan anggaran sekolah. I. Prinsip-Prinsip Manajemen Keuangan Pendidikan 1. Transparansi Transparan berarti adanya keterbukaan. Transparan di bidang manajemen berarti adanya keterbukaan dalam mengelola suatu kegiatan. Di lembaga pendidikan, bidang manajemen keuangan yang transparan berarti adanya keterbukaan dalam manajemen keuangan lembaga pendidikan, yaitu keterbukaan sumber keuangan dan jumlahnya, rincian penggunaan, dan pertanggungjawabannya harus jelas sehingga bisa memudahkan pihak-pihak yang berkepentingan untuk mengetahuinya. Transparansi keuangan sangat diperlukan dalam rangka meningkatkan dukungan orangtua, masyarakat dan pemerintah dalam penyelenggaraan seluruh program pendidikan di sekolah 2. Akuntabilitas Akuntabilitas adalah kondisi seseorang yang dinilai oleh orang lain karena kualitas performansinya dalam menyelesaikan tugas untuk mencapai tujuan yang menjadi tanggung jawabnya. Akuntabilitas di dalam manajemen keuangan berarti penggunaan uang sekolah dapat dipertanggungjawabkan sesuai dengan perencanaan yang telah ditetapkan. Berdasarkan perencanaan yang telah ditetapkan dan peraturan yang berlaku maka pihak sekolah membelanjakan uang secara bertanggung jawab. adanya transparansi para penyelenggara sekolah dengan menerima masukan dan mengikutsertakan berbagai komponen dalam mengelola sekolah. 3. Efektivitas Efektif seringkali diartikan sebagai pencapaian tujuan yang telah ditetapkan. Garner(2004) mendefinisikan efektivitas lebih dalam lagi, karena sebenarnya efektivitas tidak berhenti sampai tujuan tercapai tetapi sampai pada kualitatif hasil yang dikaitkan dengan pencapaian visi lembaga. 4. Efisiensi Efisiensi berkaitan dengan kuantitas hasil suatu kegiatan. Efficiency ”characterized by quantitative outputs” (Garner,2004). Efisiensi adalah perbandingan yang terbaik antara masukan (input) dan keluaran (out put) atau antara daya dan hasil. Daya yang dimaksud meliputi tenaga, pikiran, waktu, biaya. Menurut Depdiknas (2000) bahwa manajemen keuangan merupakan tindakan pengurusan/ketatausahaan keuangan yang meliputi pencatatan, perencanaan, pelaksanaan, pertanggungjawaban dan pelaporan Dengan demikian, manajemen keuangan sekolah dapat diartikan sebagai rangkaian aktivitas mengatur keuangan sekolah mulai dari perencanaan, pembukuan, pembelanjaan, pengawasan dan pertanggung-jawaban keuangan sekolah. J. Tugas Manajer Keuangan Pendidikan Dalam pelaksanaannya, manajemen keuangan menganut asas pemisahan tugas antara fungsi Otorisator, Ordonator, dan Bendaharawan. Otorisator adalah pejabat yang diberi wewenang untuk mengambil tindakan yang mengakibatkan penerimaan dan pengeluaran anggaran. Ordonator adalah pejabat yang berwenang melakukan pengujian dan memerintahkan pembayaran atas segala tindakan yang dilakukan berdasarkan otorisasi yang telah ditetapkan. Bendaharawan adalah pejabat yang berwenang melakukan penerimaan, penyimpanan, dan pengeluaran uang serta diwajibkan membuat perhitungan dan pertanggungjawaban. Kepala Sekolah, sebagai manajer, berfungsi sebagai Otorisator dan dilimpahi fungsi Ordonator untuk memerintahkan pembayaran. Namun, tidak dibenarkan melaksanakan fungsi Bendaharawan karena berkewajiban melakukan pengawasan ke dalam. Sedangkan Bendaharawan, di samping mempunyai fungsi-fungsi Bendaharawan, juga dilimpahi fungsi ordonator untuk menguji hak atas pembayaran. Manajer keuangan sekolah berkewajiban untuk menentukan keuangan sekolah, cara mendapatkan dana untuk infrastruktur sekolah serta penggunaan dana tersebut untuk membiayai kebutuhan sekolah. Tugas manajer keuangan antara lain: 1. Manajemen untuk perencanaan perkiraan. 2. Manajemen memusatkan perhatian pada keputusan investasi dan pembiayaannya 3. Manajemen kerjasama dengan pihak lain 4. Penggunaan keuangan dan mencari sumber dananya K. Proses Manajemen Keuangan Pendidikan Komponen keuangan sekolah merupakan komponen produksi yang menentukan terlaksananya kegiatan belajar-mengajar bersama komponen komponen lain. Dengan kata lain, setiap kegiatan yang dilakukan sekolah memerlukan biaya. Dalam tataran pengelolaan Vincen P Costa (2000 : 175) memperlihatkan cara mengatur lalu lintas uang yang diterima dan dibelanjakan mulai dari kegiatan perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, pengawasan sampai dengan penyampaian umpan balik. Kegiatan perencanaan menentukan untuk apa, dimana, kapan dan beberapa lama akan dilaksanakan, dan bagaimana cara melaksanakannya. Kegiatan pengorganisasian menentukan bagaimana aturan dan tata kerjanya. Kegiatan pelaksanaan menentukan siapa yang terlibat, apa yang dikerjakan, dan masing-masing bertanggung jawab dalam hal apa. Kegiatan pengawasan dan pemeriksaan mengatur kriterianya, bagaimana cara melakukannya, dan akan dilakukan oleh siapa. Kegiatan umpan balik merumuskan kesimpulan dan saran-saran untuk kesinambungan terselenggarakannya Manajemen Operasional Sekolah. L. Sumber – Sumber Manajemen Keuangan Pendidikan 1. Dana dari Pemerintah Dana dari pemerintah disediakan melalui jalur Anggaran Rutin dalam Daftar Isian Kegiatan (DIK) yang dialokasikan kepada semua sekolah untuk setiap tahun ajaran. Dana ini lazim disebut dana rutin. Besarnya dana yang dialokasikan di dalam DIK biasanya ditentukan berdasarkan jumlah siswa kelas I, II dan III. Mata anggaran dan besarnya dana untuk masing-masing jenis pengeluaran sudah ditentukan Pemerintah di dalam DIK. Pengeluaran dan pertanggungjawaban atas pemanfaatan dana rutin (DIK) harus benarbenar sesuai dengan mata anggara tersebut. Selain DIK, pemerintah sekarang juga memberikan dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS). Dana ini diberikan secara berkala yang digunakan untuk membiayai seluruh kegiatan operasional sekolah. 2. Dana dari Orang Tua Siswa Pendanaan dari masyarakat ini dikenal dengan istilah iuran Komite. Besarnya sumbangan dana yang harus dibayar oleh orang tua siswa ditentukan oleh rapat Komite sekolah. Pada umumnya dana Komite terdiri atas : a. Dana tetap bulan sebagai uang kontribusi yang harus dibayar oleh orang tua setiap bulan selama anaknya menjadi siswa di sekolah b. Dana incidental yang dibebankan kepada siswa baru yang biasanya hanya satu kali selama tiga tahun menjadi siswa (pembayarannya dapat diangsur). c. Dana sukarela yang biasanya ditawarkan kepada orang tua siswa terterntu yang dermawan dan bersedia memberikan sumbangannya secara sukarela tanpa suatu ikatan apapun. 3. Dana dari Masyarakat Dana ini biasanya merupakan sumbangan sukarela yang tidak mengikat dari anggota-anggota masyarakat sekolah yang menaruh perhatian terhadap kegiatan pendidikan di suatu sekolah. Sumbangan sukarela yang diberikan tersebut merupakan wujud dari kepeduliannya karena merasa terpanggil untuk turut membantu kemajuan pendidikan. Dana ini ada yang diterima dari perorangan, dari suatu organisasi, dari yayasan ataupun dari badan usaha baik milik pemerintah maupun milik swasta. 4. Dana dari Alumni Bantuan dari para Alumni untuk membantu peningkatan mutu sekolah tidak selalu dalam bentuk uang (misalnya buku-buku, alat dan perlengkapan belajar). Namun dana yang dihimpun oleh sekolah dari para alumni merupakan sumbangan sukarela yang tidak mengikat dari mereka yang merasa terpanggil untuk turut mendukung kelancaran kegiatankegiatan demi kemajuan dan pengembangan sekolah. Dana ini ada yang diterima langsung dari alumni, tetapi ada juga yang dihimpun melalui acara reuni atau lustrum sekolah. 5. Dana dari Peserta Kegiatan Dana ini dipungut dari siswa sendiri atau anggota masyarakat yang menikmati pelayanan kegiatan pendidikan tambahan atau ekstrakurikuler, seperti pelatihan komputer, kursus bahasa Inggris atau keterampilan lainnya. 6. Dana dari Kegiatan Wirausaha Sekolah Ada beberapa sekolah yang mengadakan kegiatan usaha untuk mendapatkan dana. Dana ini merupakan kumpulan hasil berbagai kegiatan wirausaha sekolah yang pengelolaannya dapatj dilakukan oleh staf sekolah atau para siswa misalnya koperasi, kantin sekolah, bazaar tahunan, wartel, usaha fotokopi, dll. M. Pertanggungjawaban Keuangan Sekolah Kepala sekolah wajib menyampaikan laporan dibidang keuangan terutama mengenai penerimaan dan pengeluaran keuangan sekolah. Pengevaluasian dilakukan setiap triwulan atau per semester. Dana yang digunakan akan dipertanggungjawabkan kepada sumber dana. Jika dana tersebut diperoleh dari orang tua siswa, maka dana tersebut akan dipertanggung jawabkan oleh kepala sekolah kepada oran gtua siswa. Begitu pula jika dana tersebut bersumber dari pemerintah maka akan dipertanggungjawabkan kepada pemerintah. BAB III PENUTUP A. Kesimpulan Pada dasarnya setiap sekolah sudah menyelenggarakan sistem pengelolaan yang baik, tetapi sistem yang efektif kurang dilaksanakan. Ketidakdisiplinan dalam penggunaan anggaran, serta pemimpin yang boros selalu menjadi fenomena tersendiri. Untuk itu diperlukan kepemimpinan dan manajemen pengelolaan yang efektif menuju keseimbangan antara sistem yang ada dalam mendistribusikan sumber-sumber dana pendidikan di Indonesia. Pelaksanaan administrasi peralatan dan perlengkapan sudah merupakan pekerjaan rutin dan orang-orang di hadapkan kesukaran-kesukaran yang kurang berarti, namun untuk penyempurnaan pekerjaan para ahli menyarankan beberapa pedoman pelaksanaan administrasinya, sbb : 1. Hendaknya kepala sekolah sebagai administrator tidak terlalu menyibukkan dirinya secara langsung dengan urusan pelaksanaan administrasi peralatan dan perlengkapan pengajaran 2. Melakukan sisi pencatatan yang tepat sehingga mudah di kerjakan 3. Administrasi peralatan dan perlengkapan pengajaran harus senantiasa ditinjau dari segi pelayanan untuk turut memperlancar pelaksanaan program pengajaran Kondisi-kondisi diatas akan terpenuhi jika administrator mengikutsertakan semua guru dalam perencanaan seleksi, distribusi dan penggunaan serta pengawasan peralatan dan perlengkapan pengajaran. DAFTAR PUSTAKA • Bafadal, Ibrahim. 2004. Manajemen Perlengkapan Sekolah. Jakarta : PT BUMIKARSA. • Mulyasa, Manajemen Berbasis Sekolah. 2007. Bandung : Remaja Rosda Karya. • Soepardi,Imam. 1988. Dasar-Dasar Administrasi Pendidikan. Jember : FKIP Universitas Jember • Natawijaya, Rochman.1981. Ilmu Keguruan Pendidikan Nasional. Jakarta : PT New Aqua Press. • Tim Pakar Manajemen Pendidikan UM. 2003. Manajemen Pendidikan: Analisis Substansi dan Aplikasinya dalam Institusi Pendidikan.Malang : UM

makna dan tujuan pendidikan

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pendidikan Islam sebagai salah satu aspek dari ajaran Islam, dasarnya adalah Alquran dan Hadis Nabi Muhammad saw. Dari kedua sumber tersebut, para intelektual muslim kemudian mengembangkannya dan mengklasifikannya kedalam dua bagian yaitu: Pertama, akidah untuk ajaran yang berkaitan dengan keimanan; kedua, adalah syariah untuk ajaran yang berkaitan dengan amal nyata (Muhammad Syaltut). Oleh karena pendidikan termasuk amal nyata, maka pendidikan tercakup dalam bidang syariah. Bila diklasifikasikan lebih lanjut, termasuk dalam sub bidang muamalah. Dalam Alquran (Q.S. 31: 12-15). Banyak ayat yang berkenaan dengan pendidikan. Tim penyusun buku Ilmu Pendidikan Islam memberikan contoh dengan menggunakan kisah Lukman ketika mendidik anak-anaknya (Proyek Pembinaan Perguruan Tinggi Agama, 1982/1983:20). Hal tersebut menggariskan prinsip-prinsip dasar materi pendidikan Islam yang terdiri atas masalah iman, ibadah, sosial, dan ilmu pengetahuan. Sebagai bantahan pendapat yang meragukan terhadap adanya aspek pendidikan dalam Alquran. Abdul Rahman Saleh Abdullah mengemukakan bahwa kata Tarbiyah yang berasal dari kata “Rabb”(mendidik dan memelihara) banyak terdapat dalam Alquran; demikian pula kata “Ilm” yang demikian banyak dalam Alquran menunjukkan bahwa dalam Alquran tidak mengabaikan konsep-konsep yang menunjukkan kepada pendidikan (Departemen P & K, 1990:291). Hadis, juga banyak memberikan dasar-dasar bagi pendidikan Islam. Hadis sebagai pernyataan, pengalaman, takrir dan hal ihwal Nabi Muhammad saw., merupakan sumber ajaran Islam yang kedua sesudah Alquran. BAB II PEMBAHASAN A. Makna Dan Tujuan Pendidikan Islam Pada Konferensi Dunia Pertama mengenai Pendidikan Islam yang diselenggarakan di Makkah, pada April 1971, ketika tampil sebagai salah seorang pembicara utama dan mengetuai komite yang membahas cita-cita dan tujuan pendidikan, secara sistematis al-Attas mengajukan agar definisi pendidikan Islam diganti menjadi penanaman adab dan istilah pendidikan dalam Islam menjadi ta’dib. Secara tegas, menurut al-Attas pendidikan adalah suatu proses penanaman sesuatu ke dalam diri manusia. Dalam hal ini, “suatu proses penanaman” mengacu pada metode dan sistem untuk menanamkan apa yang disebut sebagai ‘pendidikan’ secara bertahap. Sedangkan, “sesuatu” mengacu pada kandungan yang ditanamkan; dan “diri manusia” mengacu pada penerima proses dan kandungan itu. Jadi dapat disimpulkan bahwa pendidikan adalah penyemaian dan penanaman adab dalam diri seseorang, yang ini disebut dengan ta’dib. Dalam konteks ilmu, adab berarti disiplin intelektual yang mengenal dan mengakui adanya hierarki ilmu berdasarkan kriteria tingkat-tingkat keluhuran dan kemuliaan, yang memungkinkannya mengenal dan mengakui, bahwa seseorang yang pengetahuannya berdasarkan wahyu itu jauh lebih luhur dan mulia dari pada mereka yang pengetahuannya berdasarkan akal; bahwasanya fardu ‘ain adalah jauh lebih tinggi dari pada fardu kifayah; dan bahwasanya segala sesuatu yang berisi petunjuk kehidupan jauh lebih mulia dari pada segala sesuatu yang dipakai dalam kehidupan. Adab dalam ilmu pengetahuan akan menghasilkan cara-cara yang tepat dan benar dalam belajar dan penerapan pelbagai bidang sains yang berbeda. Seirama dengan ini, rasa hormat terhadap para sarjana dan guru dengan sendirinya merupakan salah satu pengejawantahan langsung dari adab terhadap ilmu pengetahuan. Dengan demikian tujuan yang sebenarnya dalam upaya pencarian ilmu dan pendidikan adalah agar seseorang bisa mencapai kebahagiaan di dunia dan di akherat. B. Konsep Pendidikan Islam Konsep pendidikan Islam yang diajarkan Nabi Saw dapat disimak dalam hadis trilogi agama; Islam, Iman dan Ihsan. Hadis yang diriwayatkan Bukhari dan Muslim dari Umar bin Khaththab ini menyebutkan, ketika Nabi Saw sedang mengadakan halaqah taklim di Masjid Nabawi, tiba-tiba datang seorang musafir berpakaian serba putih—yang belakangan diketahui malaikat Jibril AS—dengan sikap yang sangat sopan sebagai seorang murid bertanya kepada gurunya. Ada tiga hal yang ditanyakan Jibril; islam, iman dan ihsan. Nabi Saw menjawab, Islam adalah mengucapkan dua kalimat syahadat, mendirikan shalat, membayar zakat, berpuasa di bulan Ramadhan dan pergi haji ke tanah suci bagi yang mampu. Iman adalah percaya dan yakin kepada Allah, para malaikat, Kitab-kitab yang diturunkan, para rasul, hari kiamat dan takdir baik dan buruk dari Allah. Sedang ihsan adalah menyembah Allah seakan-akan engkau melihat-Nya, bila engkau tidak dapat melihat-Nya, yakinlah Dia tetap melihatmu. Berikutnya Nabi Saw ditanya tentang waktu hari kiamat. Beliau menjawab tidak tahu, tapi kemudian menjelaskan tanda-tandanya secara rinci. Dalam hadis ini dapat disimpulkan bahwa konsep dan materi pendidikan Islam harus mencakup tiga hal; Islam, Iman dan Ihsan. Islam sebagai gambaran perilaku peserta didik yang meliputi hubungan vertikal dan hubungan horizontal yang tergambar dalam rukun-rukun Islam. Iman menandakan kepatuhan dan keyakinan tentang inti nilai pendidikan Islam yang selalu bermuara pada hakekat hidup; mengabdi kepada Allah. Sedangkan Ihsan merupakan pengejawantahan nilai-nilai Islam dan Iman yang tertanam dalam bentuk perilaku nyata yang terwujud dalam etika dan akhlaq. Seorang muhsin adalah orang yang selalu mewujudkan kebaikan di mana pun, kapan pun dan kepada siapa pun, dengan penuh keikhlasan, tanpa mengharapkan balasan. C. Nilai-nilai pendidikan Islam Dalam buku At-Tarbiyah ad-Diniyah al-Islamiyyah baina al-Ashalah wa al-Mu`asharah, karya Fathi Ali Yunis dkk, disebutkan pendidikan Islam memiliki beberapa ciri khas: Karakter ketuhanan (thabi`iyah ilahiyyah); aspek-aspek pendidikan dalam Islam menyentuh sisi akidah, ibadah, muamalah yang kesemuanya bersumber dari Al-Qur’an dan sunnah. Komprehensif (at-Takamul), menyentuh berbagai aspek; rohani-jasmani, akidah-syari`ah, ilmu dan amal. Realistik (Waqi`iyyah), pendidikan Islam menyentuh realitas hidup manusia. Universal (`Alamiyyah) mencakup waktu, tempat, dan umat. Pendidikan Islam senantiasa relevan dengan zaman, tempat dan bangsa. Menyatukan antara yang permanen dengan yang dinamis (al-Jam`u baina ats-Tsabat wa-al-murunah). Akidah bersifat permanen, sedangkan mu’amalah dan hal-hal furu’iyah sangat dinamis. Agar pendidikan kemasyarakatan dapat mencapai target yang optimal, Ibnu Khaldun seorang sosilog muslim dalam al-Muqaddimah-nya, memberikan beberapa prinsip pendidikan masyarakat : 1. Prinsip kausalitas (as-Sababiyah). Hukum kausalitas adalah sistem yang diciptakan Allah dalam alam semesta. Dalam dunia pendidikan akan selalu dijumpai beragam watak, tabiat dan kemampuan manusia. Dalam hal ini Rasulullah Saw memberikan arahannya, “Kami para Nabi diperintahkan untuk berbicara kepada umat sesuai dengan kadar pemahamannya.” 2. Prinsip rasionalitas (al-`Aqlaniyyah). Rasionalitas adalah kemampuan akal dalam memahami dan menangkap ilmu pengetahuan. 3. Prinsip format dan isi (as-Surah wa al-Muhtawa). Format adalah gambaran nyata, sedangkan isi adalah informasi yang akan dicapai. Artinya menggunakan wasa’il al-idhah dalam menyampaikan pesan atau informasi. Al-Qur’an dan al-hadis banyak menggunakan matsal (perumpamaan) dengan term taysbih (penyerupaan), kinayah (kiasan) dalam menyampaikan makna yang dimaksud dalam pemahaman ajaran agama. 4. Prinsip fleksibilitas (al-Taghayyur). Dunia ini sangat dinamis, selalu mengalami perkembangan dan perubahan. Demikian pula dengan manusia sebagai pelaku utama di dunia ini pasti mengalami perubahan dari satu masa ke masa, dari satu generasi ke generasi. 5. Prinsip-prinsip pendidikan yang diambil dari realitas pendidikan yang berlaku Masyarakat Islam pada dasarnya adalah masyarakat pendidik, saling mengingatkan satu sama lain. Al-Qur’an telah menggambarkan kriteria masyarakat Islam dalam surat Ali `Imran: 110, “Kalian adalah umat terbaik yang pernah ada, karena saling mengajak kepada kebaikan, mencegah dari kemunkaran, dan beriman kepada Allah.” Masyarakat Madinah yang terdiri dari Muhajirin dan Anshar merupakan contoh nyata masyarakat Islam yang ideal. Sedangkan target pendidikan Islam yang akan dicapai menurut Abu Hamid al-Ghazali dalam Ihya’ Ulumiddin, adalah sebagai berikut : 1. Mendekatkan diri kepada Allah, dengan sikap tawadhu’. 2. Mendapatkan ilmu yang bermanfaat, yang dapat mengantarkan pemiliknya menjadi orang saleh, karena hakekat kebahagian di dunia dan akherat adalah ilmu pengetahuan. Berakhlak mulia. Karena akhlak mulia adalah tujuan diutusnya para nabi dan rasul. Hal ini ditegaskan Nabi Saw, “Sesungguhnya Aku diutus untuk menyempurnakan akhlak.” Dengan demikian pendidikan yang telah dicontohkan Nabi Saw, baik kandungan maupun metodenya dapat ditiru oleh umatnya, sehingga ‘baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur’ dapat tercapa BAB III PENUTUP A. KESIMPULAN Konsep pendidikan Islam yang diajarkan Nabi Saw dapat disimak dalam hadis trilogi agama; Islam, Iman dan Ihsan. Hadis yang diriwayatkan Bukhari dan Muslim dari Umar bin Khaththab ini menyebutkan, ketika Nabi Saw sedang mengadakan halaqah taklim di Masjid Nabawi, tiba-tiba datang seorang musafir berpakaian serba putih—yang belakangan diketahui malaikat Jibril AS—dengan sikap yang sangat sopan sebagai seorang murid bertanya kepada gurunya. Ada tiga hal yang ditanyakan Jibril; islam, iman dan ihsan. Nabi Saw menjawab, Islam adalah mengucapkan dua kalimat syahadat, mendirikan shalat, membayar zakat, berpuasa di bulan Ramadhan dan pergi haji ke tanah suci bagi yang mampu. Dalam hadis ini dapat disimpulkan bahwa konsep dan materi pendidikan Islam harus mencakup tiga hal; Islam, Iman dan Ihsan. Islam sebagai gambaran perilaku peserta didik yang meliputi hubungan vertikal dan hubungan horizontal yang tergambar dalam rukun-rukun Islam. Iman menandakan kepatuhan dan keyakinan tentang inti nilai pendidikan Islam yang selalu bermuara pada hakekat hidup; mengabdi kepada Allah. Sedangkan Ihsan merupakan pengejawantahan nilai-nilai Islam dan Iman yang tertanam dalam bentuk perilaku nyata yang terwujud dalam etika dan akhlaq. Seorang muhsin adalah orang yang selalu mewujudkan kebaikan di mana pun, kapan pun dan kepada siapa pun, dengan penuh keikhlasan, tanpa mengharapkan balasan. DAFTAR PUSTAKA Naquib al Attas, Muhammad, Dilema Kaum Muslimin cet.1.(Surabaya : PT. Bina Ilmu,1986) Konsep Pendidikan Dalam Islam : Suatu Rangka Fikir Pembinaan Filsafat Pendidikan Islam, Cet. IV. (Bandung : Mizan,1994) ¬¬¬¬¬¬¬ Wan Mohd Nor Wan Daud, Filsafat Dan Praktik Pendidikan Isl
am Muhammad Naquib al-Attas,cet.1(Bandung : Mizan, 2003)